Kamis, 08 Desember 2016

An Open Letter for Febriansyah Putra #3

Dear Febriansyah Putra.

Terkait dengan open letter aku #1 yang aku tulis beberapa minggu yang lalu, jadi bagaimana hasil pemilu-nya, Feb?

Jadi, sebelum aku tulis surat untuk Febri, boleh lah ya cerita sedikit..

kemarin.. 7 December 2016, merupakan hari yang mendebarkan untuk Febri (aku juga sih). Yaitu penghitungan suara pemilihan BEM di fakultasnya. Sorenya, Febri ngeline “aku di kampus yah ini. Baru kelar kuliah, ini mau pengitungan suara.” DHEG. Penasaran kan hasilnya bagaimana.. terus, sekitar jam 7, Febri belum juga ngabarin. Beberapa menit kemudian, liat instagram story dan ada temennya yang update video yang ada Febri (dan calon ketua BEM yang lain) dan ada caption ‘Congratulation.’ HADUH. Febri belum ngabarin sama sekali dan aku sama sekali gak mau dapat kabar duluan dari orang lain jadi video itu langsung aku skip :”)
beberapa puluh menit kemudian, Febri ngeline satu kata doang tapi sukses buat aku deg-degan dan penasaran.. “Alhamdulillahhh.. :”)))” loh, Feb. Alhamdulillah buat apa? Dan line aku baru dibalas 15 menit kemudian. “Ilham (calon ketua BEM yang lain) yang dapat. Alhamdulillah. Legaaaaa” okaaaay Feb kini aku tau hasilnya :”) dan aku lagi malas banget ngetik chat panjang lebar jadi Cuma aku balas “aku telfon sekarang boleh, ya?” dan dibalas “aku masih di atas ini. Salam-salaman, foto sama beres-beres. Ketemu langsung aja mau gak?” yaudah… dia jemput dan kita ngobrol di Wake Up.
Waktu di Wake Up, Febri cerita semuanya kronologis hari itu gimana. Aku cuma mendengarkan dan dia meminta aku merespon semua cerita dan kejadian yang terjadi hari itu..

Jadi gini, Feb.. sebenarnya, bukan suatu persoalan yang besar kan tidak terpilih menjadi ketua BEM? Kembali ke tujuan awal kau yang dulu-dulu pernah kau ceritain ke aku. Kau mau memajukan Kemafar dalam berbagai bidang, kan? Dan kalau tujuan kau memang benar-benar itu, aku yakin kau bisa memberikan masukan dari yang kau tulis di visi misi kau untuk Ilham sebagai ketua BEM. Dan menurut aku juga, karena kau sama Ilham sama-sama koor angkatan 2014, kalian berdua bisa menyatukan beberapa ide berbeda untuk direalisasikan. Sama kayak yang sudah kalian lakuin ke angkatan 2014. Dan seperti yang aku bilang di awal, kau gak terpilih sebagai ketua BEM merupakan masalah yang (sangat) besar kalau tujuan utama kau bukan untuk memajukan Kemafar, tapi karena kau mencari ketenaran sebagai ketua BEM eheheee :ppp tapi aku tau kau gak kayak gitu ;)

Feb, aku tau. Sangat tau apa yang sudah kau lakukan dari awal kau daftar jadi ketua BEM sampai akhirnya penghitungan suara kemarin. Ngumpulin berkas pendaftaran saat sudah H-1, bikin visi-misi, membentuk tim sukses, ngumpul dengan tim sukses, ngeprint ini itu untuk kebutuhan kampanye, kampanye yang hampir tiap hari sampai debat terbuka. Semua kau lakuin dengan sebaik mungkin. Semua kau lakuin dengan senang juga, kan. I know you’ve done your best whatever the result is, Feb.

Aku, sebagai pacar kau dan sebagai orang yang tau perjalanan  dan perjuangan kau dari awal, jujur bae… bangga nian sama kau. Bangga karena ya.. karena kau sudah berani untuk memulai komitmen dan daftar jadi ketua BEM. Bangga juga karena aku melihat sendiri bagaimana kau memperjuangkan apa yang kau mau.

Dan sekali lagi, aku seneng waktu denger kemarin kau bilang “aku yakin aku gak terpilih jadi ketua BEM ini karena ada sesuatu yang lebih lebih lagi sedang menunggu aku.” Aku seneng karena kau dengan lapang dada menerima kekalahan dan tetap optimis untuk melihat ke depan. Feb, ada sekian ratus orang yang memilih kau. Mereka percaya loh untuk diketuai sama kau :)

Tetap lah jadi Febri yang penuh dengan energi positif seperti ini. Tetaplah menjadi Febri yang selalu penuh semangat untuk mendapatkan apa yang kau mau.


..dan yang terakhir, aku akan selalu ada dan siap untuk mendengarkan seluruh cerita dan keluh kesah kau, Feb. :)


Akhirnya Sampai di The Lodge Maribaya.

Haai! Jadi, kemarin (selasa, 6 desember 2016) Febri tiba-tiba ngeline nanyain aku beres kuliah jam berapa. Karena kemarin aku cuma 2 kelas dan selesai sekitar jam 11, dia tiba-tiba aja bilang “kelar kau kelas, jalan aja yuk. Bosen nih.” Hmm hehee Rizka sih ngikut2 aja kan ya, Feb. yaudah.. kelar kelas, ketemuan di ATM center, terus ke kosan aku bentar ngambil monopod kamera dia. Di jalan menuju kosan, Febri bilang “aku mau nunjukin sesuatu. Yang sangat berguna buat kau. Tapi nanti bae, habis ambil monopod.” Yaudah kan rasa penasarannya ditahan dulu. Begitu aku turun lagi sesudah ngambil monopod, di teras kosan dia bilang lagi “liat sana dulu, aku keluarin sesuatu yang sangat berguna untuk kau.” Begitu aku balik badan lagi, dan ternyata yang dia pegang adalah……. Tas untuk kamera dia. YA. Sangat berguna buat aku, Feb :) sebel kan ya ternyata dia diem-diem belanja  online tas kamera itu :/ WKWKWK

Sekitar jam 12, begitu selesai beres-beres isi TAS kamera BARU, kami pergi ke Bandung. Ya seperti biasa melewati macetnya Cileunyi, Cibiru dan Ujung Berung, dan kami masih bingung mau pergi ke mana. “yaudah ke Lembang bae. Sekalian solat zuhur di sana.” Dan lagi, melewati macetnya Bandung, akhirnya kami sampai di Lembang. Masih bingung ni mau ke mana. Liat plang dan akhirnya kami memutuskan untuk ke tempat yang beberapa bulan lalu batal kami kunjungi karena terlalu jauh dan gak nyampe-nyampe. Yaitu The Lodge Maribaya. Tempat wisata yang lagi hits banget di instagram. Lokasi yang sangat jauh dan akses yang agak sulit karena jalan aspal yang masih bolong-bolong dan banyak bebatuan. Akhirnya setelah sekitar setengah jam perjalanan dari mesjid Lembang tempat kami solat tadi, kami menemukan plang / petunjuk masuk ke The Lodge Maribaya.

Sesampainya kami di sana, setelah memarkirkan motor, kami membeli tiket masuk seharga Rp. 15.000/orang (Rp. 25.000/org saat weekend) dan segera menuju ke dalam tempat wisata The Lodge Maribaya. The best part of the day adalah kami datang saat weekday jadi tidak terlalu ramai. Ada banyak wahana untuk foto seperti Sky Tree, Sky Swing dan beberapa wahana untuk foto lainnya. Emang sih, rasanya kurang lengkap kalau ke The Lodge tapi gak foto di sky tree dll. Tapi, yang bikin aku sama febri males banget untuk foto di wahana itu adalah, ngantrinya panjang banget untuk kesempatan foto sekitar 10 menit dan juga karena waktu itu sudah jam 3 lewat dan kami takut kesorean pulang kalau ngantri untuk foto dulu. Yaudah, deh.. kami cuma foto dengan latar belakang hutan pinus yang indahhh! Waktu itu, ketika kami sudah mau pulang, gerimis yang lumayan deras pun turun dan males banget kalau harus pulang hujan-hujanan, akhirnya kami berteduh dulu di situ sambil menunggu hujan sekitar setengah jam. Yeaaay akhirnya kesampean ke The Lodge Maribaya ya, Feb!












xx

Jumat, 18 November 2016

An Open Letter For Febriansyah Putra #2

Dear Febriansyah Putra.. anak bungsu yang sayang keluarga.

ada yang minta lagi nih ditulisin open letter setelah baca open letter yang pertama tadi :))) yaudah karena rizka baik, nih ditulisin lagi~

Bahas apa ya kali ini? Hm kayak yang aku sebut di awal postingan ini aja deh. Tentang Febriansyah, si anak bungsu yang sayang keluarga.

2 setengah tahun pacaran sama kau, waktu yang lumayan lama lah ya untuk aku mengenal kau. Dan aku pengen ngungkapin pendapat aku tentang bagaimana kau dan keluarga. Dari pertama aku kenal (lebih dekat) sama kau, aku bisa dengan yakin menilai kau adalah tipe laki-laki yang sayang banget sama keluarga. Coba aku ceritain satu-satu menurut pandangan aku selama ini ya, Feb.

Mulai dari kakak kedua kau yang biasa kau panggil ‘Bang Bayu’. Dulu, kau sering cerita kalau sering berselisih paham sama bang bayu. Kalau kau ngutarain pendapat tentang sesuatu, tapi gak sejalan sama pendapat bang Bayu. Kadang kau juga sering cerita kau kesel sama bang Bayu. Terus apa yang bikin aku bisa bilang kau sayang sama bang Bayu? Kejadian yang baru terjadi akhir-akhir ini. Bang Bayu mengalami kecelakaan dan harus berada di ruang ICU untuk beberapa hari. Karena sudah 3 hari dan Bang Bayu masih koma dan Papa kau harus pergi ke Tungkal untuk kerja dan cuma ada mama di Jambi untuk nunggu Bang Bayu, kau dengan yakin mengatakan untuk pulang ke Jambi walaupun harus mengorbankan kuliah satu minggu untuk bantu jaga bang bayu. kau pun pulang ke Jambi selama satu minggu. Karena bang bayu masih berada di ruang ICU jadi kau harus tidur ngemper di depan ruang ICU yang dingin dan hanya dialasi karpet dan selimut tiap hari selama satu minggu. Bolak-balik rumah-rumah sakit, ngurus keperluan bang bayu dan bacain Al-quran buat bang bayu. Menurut aku, hal itu Kau lakukan karena kau sayang sama bang bayu. Walalupun sering berselisih paham, dia tetap saudara kandung kau. Dan juga hadirnya Arsy, ponakan perempuan kau juga menjadikan kau lebih dekat dengan bang bayu.  

Kakak pertama kau, kak Anton.  Menurut aku, kak Anton adalah saudara kau yang paling dekat sama kau. Kau sering izin ke aku, pergi dengan kak anton. Entah itu beli makanan malam-malam, cari pokemon, ke bengkel dan masih banyak lagi. Bahkan kau sama kak anton sering tukeran barang, kan. Motor, jaket, headset, baju. Kak anton juga sering titip sesuatu ke kau juga kan kalau kau ke bandung. Dan tanpa harus ada sesuatu yang terjadi, aku bisa dengan yakin menilai kau sayang ke kak anton. Sama seperti kau sayang ke bang bayu. Dan dari kak anton, kau resmi menjadi oom dengan hadirnya rayyan, ponakan pertama kau :D

Dengan mama.. kau sangat sangat sangat sayang sama mama. Hal yang dapat aku lihat langsung adalah tiap kau pulang ke Jambi, dengan senang hati dan tanpa mengeluh sedikitpun, kau rela jadi ‘ojek’-nya mama dan siap mengantarkan mama kemana pun. Ke kantor, pasar keluarga (walaupun kau Cuma nunggu di motor), bank, jamtos dan ke semua tempat. Kalau di rumah dan mama lagi masak, kau juga dengan senang hati nolongin mama walaupun akhirnya disuruh masuk lagi ke kamar karena cuma ngeberantakin dan buat mama kerja dua kali dengan ngeberesin kerjaan kau :)))) dan tiap aku iseng tanya “kau sayang mama?” dan kau dengan yakin menjawab “ya sayanglahhhh!”. Kau juga yang nemenin dan jagain mama kalau papa lagi di tungkal. mungkin dak semua perempuan satu pemikiran sama aku.. tapi, aku sangat gemash sama laki-laki yang anak mama dan sayang bgt sama mama kayak kau :D karena katanya, laki-laki yang sayang mama dan memperlakukan mamanya dengan hormat, pasti tau bagaimana memerlakukan wanitanya denga sama lembutnya~ eaaaaa. Gemeshgemeshgemesh!!!!

Dengan papa.. kau sangat dekat dengan papa kayak kau ke mama. Sering juga pergi kesini-situ nemenin papa. Bantu papa ini itu kayak cuci mobil, vespa. Kau juga sering ngobrolin banyak hal kan dengan papa? Aku kurang bisa mengingat bagaimana cerita kau tentang keseharian bersama papa.. tapi, ada satu hal, feb yang bikin aku salut dengan salah satu cara nunjukin sayang kau ke papa. Yaitu, kau pernah bilang, salah satu alasan kau kuliah di farmasi adalah kau pengen bikin obat buat papa. Yang kata kau obat semakin mahal dan kau pengen kau aja yang buat obat untuk papa jadi papa dak perlu keluar uang mahal-mahal lagi untuk beli obat.. aku salut nian sama alasan ini.. salah satu cara kau membuktikan bakti dan sayang kau ke papa.

Tetap jadi seperti ini ya. Adek rian yang sayang mama papa kak anton bang bayu :)


P.s buat pembaca lain: kalau lagi ngobrol sama febri, aku memang lebih sering menyebut ‘mama’ atau ‘papa’ untuk orang tua febri daripada ‘oom’ dan ‘tante’. Tapi tidak saat bertemu atau berbicara di telfon. Aku tetap memanggil mereka ‘oom’ dan ‘tante’ ;)

An Open Letter For Febriansyah Putra #1

Dear, Febriansyah Putra.

Tiba-tiba ingin aja nulis semacam surat gini buat kau. Dalam rangka apa ya? Oiya. Dalam rangka apresiasi pencapaian satu dari keinginan terbesar kau.

Dua tahun yang lalu, waktu kau baru aja keterima dan daftar ulang di UNPAD, temen aku, yang kau tau siapa, the one and only @vinafk dengan menggebu-gebunya bilang “semoga febrinya kamu itu ntar gabung BEM atau apalah di fakultasnya jadi dia sibuk terus kamunya ngerasain ditinggal sibuk (kayak aku)”. Iya vina iya :) terkabul blas doa vina. Kau 2 tahun berturut-turut jadi anggota/staff BEM. Tahun pertama jadi staff PSO dan tahun kedua jadi staff HRD. An important position, I know. Rapat bidang paling sedikit 2 kali seminggu. Belum lagi rapat yang lain kayak DPH PEKA, semnas, dll dll. Bener-bener ditinggal sibuk nih aku. Bisa gak ketemu seharian atau bahkan seminggu karena rapat yang gak berhenti-henti. Walaupun banyak drama, aku maklum kau sibuk karena emang itu kewajiban kau dan ya harus kau jalanin, kan? Tapi.. makasih banyak ya untuk waktu yang diluangin atau bahkan waktu yang harus dicuri sampai kau harus bolos rapat demi ketemu aku. Terima kasih banyak, Febriansyah.

Terus sekitar sebulan yang lalu kau tiba-tiba bilang ke aku “yang, kalau misalnya aku daftar jadi ketua BEM gimana?”.. Wow. Just wow :)) ya aku utarain pemikiran aku gimana misalnya kalau kau jadi ketua BEM dan terpilih. Ada lebih banyak lagi hal yang harus kau awasi, pertanggungjawabkan, rapat, ini itu.. karena ya menurut aku, ketua BEM itu jabatan yang gak main-main. Karena orang-orang akan secara langsung bisa melihat dan menilai profesionalitas dan kredibilitas kau sebagai pemimpin organisasi. Pertanyaan aku, kau siap gak berkomitmen dan menjalankan segala hal yang sudah kau rencanakan (visi-misi) yang kau utarakan waktu kampanye, saat kau terpilih menjadi ketua BEM nanti? Dan kalau nanti kau terpilih menjadi ketua BEM Kemafar, siap gak kau bertanggung jawab memegang amanah satu fakultas dan terlebih lagi amanah orang-orang yang sudah memilih kau? Orang yang sudah percaya kau untuk menjadi pemimpin mereka? Kalau kau siap, silahkan maju.

Dan dari aku sendiri, sebagai pacar kau, aku selalu mendukung kau Feb. apapun keputusan dan jalan yang sudah kau pilih. One thing that you have to know is, you got my back. Cerita ke aku tentang apapun yang mau kau ceritain. Mau itu cerita seneng, sedih atau kalau kau lagi marah sekalipun. Kalau memang perlu, kita cari jalan keluarnya sama-sama kalau emang kau butuh pendapat aku.

Doa aku..semoga kau terpilih jadi ketua BEM. Semoga kau bisa amanah menjalankan kewajban. Cz I know this is going to be a big impact for your career ahead :)

Sekian itu aja dari aku..


Oiya. Pertanyaan tambahan. Siap gak menghadapi drama yang mungkin akan sedikit bertambah? Heheeee~ goodluck, by! I am a proud girlfriend ;)









Kamis, 03 November 2016

Mencoba Ikhlas dan Berdamai.

Sudah hampir satu tahun belakangan ini aku menyimpan perasaan sakit hati kepada seseorang. Berawal dari suatu kejadian yang tak ingin diingat-ingat lagi dan ternyata efek sakit hatinya berlanjut sampai beberapa bulan belakangan ini.

Jujur saja, menyimpan rasa sakit hati itu..tidak enak. Kemana-mana seperti membawa kebencian yang walaupun tidak bertambah setiap harinya, tapi rasa benci dan tidak suka itu tetap ada. Tiap hari dilalui dengan prasangka buruk walaupun hal buruk itu belum tentu benar-benar terjadi. Setelah sekian bulan berlalu, aku sadar hal ini tidak boleh terus terjadi. Aku tidak seharusnya memendam sakit hati seperti ini karena sebenarnya hal ini bisa dibicarakan dan diselesaikan baik-baik. Aku pun mencoba berdamai dengannya. Tetapi, hal yang paling penting sebelum aku berdamai dengannya adalah aku harus berdamai dengan diriku sendiri terlebih dahulu. Jujur saja, berdamai dengan diri sendiri terkadang lebih susah dibandingkan berdamai dengan orang tersebut. karena, percuma saja jika sudah berdamai dengan yang bersangkutan tapi dari dalam diri sendiri masih tidak bisa untuk menerima perdamaian tersebut.

Beberapa hari ini, aku belajar untuk berdamai dengan diri sendiri dan memaafkan dengan ikhlas. Entah sudah ada berapa kejadian yang kebetulan terjadi dan akhirnya mau tidak mau membuatku berdamai dengan diri sendiri. Karena memalsukan senyum tidak hanya bibir dan muka yang butuh tenaga. Tapi juga hati, ego dan pikiran.


Gnight!