Sabtu, 18 Oktober 2014

How’s my life going without “LDR”.

Well.. seperti yang kita semua tau, LDR atau long distance relationship adalah hubungan jarak jauh antara 2 orang yang mempunyai suatu hubungan khusus. Mereka dipisahkan jarak puluhan, ratusan bahkan ribuan kilometer jauhnya. Tak sedikit temanku yang mempunya kisah cinta LDR bersama pasangannya. Ada yang hanya tingkat daerah seperti Jatinangor-Dipati Ukur & Jatinangor-buah batu, ada juga yang tingkat nasional seperti Jambi-Jogja & Bandung-Palembang dan yang paling jauh adalah tingkat internasional seperti Indonesia-Jerman! (my friend does!)

Aku disini sebenarnya bukan mau membahas ‘apa itu LDR’. Tanpa aku jelasin, pasti LDR bukan hal yang asing lagi buat remaja-remaja Indonesia. Cuma mau cerita, how’s my life going without “LDR”.
Aku punya pacar. Dia adik tingkatku walaupun beda sekolah. Karena aku lebih tua darinya, aku mendahuluinya dalam hal memasuki dunia perkuliahan. Aku ‘jadian’ sama dia kira-kira bulan april. Saat dia sedang melaksanakan Ujian Nasional. Jelas saja kami saat itu mau gak mau harus LDR Jambi-Bandung. Tapi aku pikir, ya gapapa lah nanti kan bulan juni juga aku pulang ke Jambi. Pasti ketemu lah. Alhamdulillah, nasib baik berpihak kepadanya. Dia lolos SNMPTN di Universitas yang sama denganku. Fakultas dan jurusan idamannya. Otomatis, dia yang berstatus sebagai “calon maba” harus melaksanakan daftar ulang ke Kampus Jatinangor. Aku dan dia sangat bergembira waktu itu karena dengan diterimanya dia di univ yang sama denganku maka untuk bersemester-semester kedepannya kami (mungkin) tidak perlu menjalani yang namanya LDR. Dia dan mamanya pun datang ke Jatinangor untuk daftar ulang dan itulah kali pertamanya kita bertemu dalam status “berpacaran”.

Sekarang kami sudah memulai kuliah. Dia semester 1 dan aku semester 3. 2 minggu atau seminggu pertama, kami masih jarang bertemu karena dia disibukkan dengan segala hal mengenai ospek universitas dan ospek fakultas. Bertemu hanya 2 atau 3 hari sekali disaat dia menyempatkan waktunya untuk hanya sekedar makan berdua denganku. Setelah dia menyelesaikan ospek fakultas, akhirnya dia punya waktu senggang yang lumayan diluar jam kuliah. 2 minggu pertama, gak ada hari tanpa bertemu. Entah itu hanya bertemu sebentar, makan malam lalu pulang ke kosan masing2 atau sekedar bertemu, duduk ngobrol di pinggir danau arboretum. Tapi tidak untuk sekarang, kami mulai mengurangi intensitas bertemu karena banyak hal yang harus dijadikan prioritas. Kuliah, tugas dan deadline.

Kalau boleh aku bilang, menjalani hubungan tanpa jarak yang jauh itu menyenangkan. Bisa bertemu diwaktu senggang, makan malam sama2, bercerita tentang keseharian dan banyak hal! (but, I am not saying ldr is bad). Kadang menyenangkan kalo tiba2 disms :”yang, dimana? Aku udah beres nih. Makan yok!”. Tapi juga tiba2 suka baper (re: bawa perasaan) kalo dia sibuk seharian dan nyampe kosan langsung capek dan ketiduran haha.  



Intinya mah LDR ataupun ngga, kalo kita bisa menghargai dan memaknainya dengan bijaksana pasti bakal terasa indah eaa~ haha.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar