Langsung ke konten utama

Kita?

Here I am.. hujan lebat dan mati lampu. Sebuah kombinasi yang pas untuk membuatku takut tak karuan. Suasana yang mulai gelap dan petir yang bersautan sana-sini hampir sukses membuatku menangis karena trauma teringat kejadian masa lalu saat aku SMP. Hujan lebat dan mati lampu, aku dan adik laki-lakiku yang tidak tau harus berbuat waktu itu saat mendapati kamar disamping ruang TV mulai tergenang air karena atapnya bocor. Aku hanya bisa menangis dan adikku mencari bantuan ke tetangga sebelah dan akhirnya seluruh barang yang ada dikamar tersebut tidak dapat diselamatkan dari air yang menetes lebat dari atap rumah.aku bersyukur air hanya menggenangi kamar tersebut dan bukan seisi rumah. Kulihat baterai handphone dan laptop yang jauh dari kata setengah. Tak tau bakal bagaimana nasib uas take home ku yang (katanya) bakal dikirim malam ini dan diberikan tenggat waktu deadline sampai jam 12 malam nanti. Handphone ku bergetar, tampak nama “Febriansyah” di layarnya.
 “halo Feb, kenapa?”
“lagi dimana sekarang, sayang??”
“kosan nih, kenapa? Mati lampu..UASnya belum ada kabar dan baterai hp dan laptop kritis semua. Bagaimana dong?” kataku hampir terisak.
“hah mati lampu? Serius?
“serius feeeb aku takut nih, geleeep”
“aku masih di kampus nih, yaudah kalo gitu nanti kita keluar aja bentar sambil kau ngerjain tugas cari tempat yang ada colokan dan wifinya”
“yaudah kalo gitu”
“iya aku jg masih di kampus nih masih ada kumpul koor angkatan.”
-dan tiba2 listrik nyala-
“feeeeb barusan listrik nyala nihhhh yaudah gajadi deh kalo gitu aku ngerjain di kosan aja.”
“hoalah oke kabarin aja yaaaa sayang.”
“oke.” Telfon-pun kututup.
 Dia. Febriansyah Putra. Laki-laki yang sudah cukup lama kukenal. Selalu bisa dan mempunyai caranya sendiri untuk menenagkanku saat aku lagi panik-paniknya.

--2008--
Aku dan Febri sudah cukup lama saling kenal. Aku pertama kali melihat dan mengenalnya saat aku kelas 2 SMP dulu. Kebetulan kami 1 kelas di ET-II LIA. Dia teman, atau lebih tepat adik kelas temanku Nabila di sekolah. Tidak banyak hal yang dapat kuingat dari pertemuan pertama kami saat itu kecuali dia memakai pena tinta warna coklat dengan corak polkadot sama persis dengan milikku. Pada pertemuan kedua, guru kami (yang aku lupa siapa) menyuruh kami menyebutkan nomor hp kami satu-satu but spell in English. Dan malamnya ada nomor asing yang mengirimkan pesan kepadaku. Awalnya aku nggak tau itu siapa tapi ternyata itu adalah Febri, teman sekelasku di LIA. Dia mencatat nomer handphone ku saat aku menyebutkannya di kelas tadi siang. Seingatku, dia hanya mengajak berkenalan saja saat itu. Esoknya, saat di LIA dan di kelas dia mengajakku berbicara dan bercerita kalau dia mencatat nomer handphoneku saat kusebutkan kemarin lusa. Setelah beberapa kali pertemuan akupun tau dia siswa kelas 7 SMP 1 dan yang aku tau dia punya pacar, kakak kelasnya yang juga les di LIA tapi di level yang lebih tinggi dari kami. Sering aku lihat mereka berdua ngobrol di pintu kelas. Aku yang nggak kenal siapa pacarnya tersebut itupun ga berani untuk sekedar menegurnya saat dia lagi ngobrol sama pacarnya. Nggak lama setelah itu, aku dengar-dengar kalau dia sudah putus sama pacarnya itu dan perlahan dia mulai mendekatiku. Aku nggak tau apakah dia mendekatiku hanya sekedar iseng atau gimana tetapi yang kutau tidak lama kemudian dia punya pacar baru. Teman satu sekolahnya. Tetapi entah hanya perasaanku atau memang kenyataannya begitu, Febri masih lumayan mendekatiku. Aku yang tau dia sudah punya pacar dan teman sekelas kami adalah teman satu sekolah febri yang juga berarti teman dekat pacarnya, memilih untuk nggak terlalu menganggap serius dengan pendekatan yang dilakukan Febri. Takut bila teman-teman dan pacarnya memandangku aneh mendekati orang yang sudah memiliki pacar. Tapi entah mengapa dan entah bagaimana kata-kata manisnya membuatku luluh dan sedikit lupa kalau dia sudah punya pacar. Kami mulai dekat lagi. Saat aku datang duluan, akupun duduk di bangku ruang tunggu di depan mading. Lalu ketika dia sudah datang, baru kami bersama menuju kelas di lantai 2 begitu juga sebaliknya jika dia datang duluan. Kami bercanda dan tertawa bersama teman-teman yang lain. Tapi dapat aku rasakan perlakuannya yang beda terhadapku. Hingga suatu hari, aku dan Febri tidak lagi terlalu dekat karena aku memilih untuk sedikit menjauh karena dia sudah punya pacar dan akan tidak baik jika kedekatan kami terus kami lanjutkan.
Beberapa hari atau minggu setelah itu, Febri datang bersama temannya, sebut saja namanya Dendi. Aku merasa sebelumnya aku pernah mengenal Dendi. Barulah aku sadar ternyata dia pernah menjadi adik kelasku saat aku sekolah di Madrasah Ibtidaiyah dekat rumahku. Febri pun mengenalkan Dendi kepadaku. Besoknya, ada nomor tak kukenal mengirimkan pesan. Lalu pada akhirnya dia berkata bahwa dia adalah Dendi, teman Febri yang kemarin datang ke LIA. Beberapa hari setelah itu Dendi menyatakan perasaannya kepadaku dan menyatakan bahwa dia ingin menjalin hubungan denganku. Aku yang sudah sedikit banyak mengetahui tentang Dendi dari teman-temanku pun akhirnya menerima dia sebagai pacarku. Namun, namanya anak SMP yang perasaannya masih sangat labil, kami hanya menjalani hubungan ‘cinta monyet’ selama 2 minggu karena sesuatu hal yang mungkin dia (Dendi) anggap sepele tetapi sangat menyebalkan bagiku. Dan seperti biasa, setiap senin-rabu sore aku datang les dan kembali bertemu Febri. Kami berbicara dan ngobrol seperti biasa. Aku kembali mendengarkan cerita-ceritanya bersama pacarnya, obrolan dia dan teman-temannya tentang hal-hal yang terjadi di sekolah mereka. Beberapa minggu setelah itu kalau tidak salah kudengar Febri putus sama pacarnya waktu itu, dan saat itu juga sepupunya mendekatiku. Sebut saja namanya Aji. Berawal saat suatu sore Febri menelfonku dan entah bagaimana sepupunya ini yang akhirnya berbicara padaku di telfon. Setelah itu sepupunya ini mulai rajin menghubungiku via sms. Dan akhirnya sekitar seminggu atau 2 minggu setelah itu dia menyatakan perasaannya kepadaku dan memintaku untuk menjadi pacarnya. Aku dan Febri pun mulai menjauh lagi karena aku sudah punya pacar yang tak lain adalah sepupunya dan kudengar tak lama setelah itu dia juga punya pacar baru. Dengan Aji, aku tak banyak bertemu. Hanya sesekali hari sabtu dia datang ke sekolahku, menjemputku untuk sekedar makan bareng di tempat makan didekat sekolahku. Dengan Aji dulu aku juga sudah sedikit tau tentang Adik-adiknya melalui cerita2nya, lingkungan rumahnya, teman-teman sekolahnya.. tapi aku dengan Aji juga tidak begitu lama. Hanya sekitar 4 bulan. Kami memutuskan untuk ‘putus’ karena ada suatu perbedaan paham dan pendapat.
Semenjak putus dari Aji, aku sudah jarang bertemu Febri karena saat itu aku mulai masuk SMA dan tidak ikut les di LIA lagi. Hanya sesekali kami bertukar kabar via sms dan yang kutau dia baik-baik dan makin mesra dengan pacarnya waktu itu. Akupun menjalani kehidupanku sebagai anak SMA. Dan akhirnya aku menjalani hubungan baru bersama yang lain. Kami sudah sangat jarang berkomunikasi semenjak dia juga menjadi siswa di SMA yang berbeda denganku.

--2014--


Hingga sekarang, Februari 2014, 10 bulan yang lalu, dia datang lagi disaat aku lg diambang batas dan kalau bisa dikatakan sudah tidak bersama lagi dengan pacarku saat sma karena masalah internal. Dia yang juga waktu itu sudah putus dengan pacarnya 5 bulan sebelumnya datang lagi. Mulai perlahan membawa senyum dan kenyamanan sama seperti yang dia lakukan 6 tahun yang lalu. And lucky me, dia akhirnya kuliah di universitas yang sama denganku. Hampir tiap hari kami bertemu jika sedang tidak ada tugas atau deadline. Hanya untuk sekedar makan malam atau nonton film di bioskop mall kota kecil ini. Dia mampu membuatku tertawa meledak lagi disaat aku sedang bete-betenya, dia bisa mengerti moodku yang sering berubah tak jelas karena PMS atau sifat kekanak-kanakanku. Dia bisa membantuku memecahkan masalahku bahkan saat aku sudah menangis karena pesimis, dia bisa menjadi apapun buatku. Teman, sahabat, abang, adik dan pacar. Tapi kadang-kadang nyebelin juga liat handphonenya yang udah kayak asrama putri huft mulai dari yang nanya tugas sampe yang nanya lagi apa. Tapi gapapa, kadang respon dia ke chat-chat itu yang buat aku yakin sama dia. Well, terimakasih buat 8 bulan bersamaku, Febriansyah Putra. Ga boleh bosen2 sama aku yaaaa hehe makin sayang sama aku dong harus! Stay with me till the endless time, please. 
I love you, my future pharmacist.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

my high school buddies and their first destination!

mau coba ngedata dimana aja anak DIE melanjutkan studi mereka. acak soalnya aku gak hapal absen and correct me if im wrong :)

1. ABDUL HASIB WIBISONO = Perminyakan,  Universitas Pembangunan Nasional Veteran, Jogja
2. ADRA UTAMI SALFIERIATY = PPA BCA
3. AGA FIR IKBAR = Teknik Mesin, Universitas Sriwijaya
4. AMRINA ROSADA = AKPER GAPU, Jambi
5. ANNIDA RANI CHAIRUNNISAH = Teknologi Hasil Pertanian, Universitas Jambi
6. APRILISA ISWAHYUNI = Kedokteran Gigi, Universitas Baiturrahma
7. BUCHDIYAN = BINUS, tapi kemarin terakhir dengar bucek diterima di ITS. (gatau fakultas apa _--_)
8. CHESSY NABILA =  Teknologi Hasil Pertanian, Universitas Jambi
9. FADHLAN MAULANA = Psikologi, Universitas Jambi
10. FADHOL YUDHAGAMA = Teknik Sipil, Universitas Islam Indonesia, Jogja
11. ELENA PUTRI = Pendidikan Kimia, Universitas Jambi
12. DWI RIFANDI = Pertambangan, Universitas Sriwijaya
13. INDAH MEDIANTI = Desain Interior, ITENAS
14. M. AGUNG PRASETYO = Teknik Sipil, Universitas Sriwijaya
15. LISA TRI AYU…

Akhirnya Sampai di The Lodge Maribaya.

Haai! Jadi, kemarin (selasa, 6 desember 2016) Febri tiba-tiba ngeline nanyain aku beres kuliah jam berapa. Karena kemarin aku cuma 2 kelas dan selesai sekitar jam 11, dia tiba-tiba aja bilang “kelar kau kelas, jalan aja yuk. Bosen nih.” Hmm hehee Rizka sih ngikut2 aja kan ya, Feb. yaudah.. kelar kelas, ketemuan di ATM center, terus ke kosan aku bentar ngambil monopod kamera dia. Di jalan menuju kosan, Febri bilang “aku mau nunjukin sesuatu. Yang sangat berguna buat kau. Tapi nanti bae, habis ambil monopod.” Yaudah kan rasa penasarannya ditahan dulu. Begitu aku turun lagi sesudah ngambil monopod, di teras kosan dia bilang lagi “liat sana dulu, aku keluarin sesuatu yang sangat berguna untuk kau.” Begitu aku balik badan lagi, dan ternyata yang dia pegang adalah……. Tas untuk kamera dia. YA. Sangat berguna buat aku, Feb :) sebel kan ya ternyata dia diem-diem belanja  online tas kamera itu :/ WKWKWK
Sekitar jam 12, begitu selesai beres-beres isi TAS kamera BARU, kami pergi ke Bandung. Ya se…

Thanks, dude.

We haven't meet for years. but when I said I want to share my heart-breaking (at least for me) story, he quickly say "okay i'll pick you up tomorrow at 4 P.M. where are we going? But if tomorrow you or me can't make it, let's just have a video call."
Nothing special between us. Just friend, but I'm happy to share my story with him. At least, as a man, he didn't judge me for being too fool because that toxic relationship. 
Thanks, dude.