Jumat, 17 April 2015

whtevr

mau dia temen sekelas kamu dari TK sampe SMA, adek kelas yg udah akrab sama kamu dari SMA, bahkan sahabat sejati kamu dari SMP sekalipun.. girl is a girl, baby ;)

Selasa, 07 April 2015

Bersyukur

Pernah gak sih kalian ngerasin kalian sedang terjebak atau simpelnya, berada di situasi yang ‘salah’ dan tidak kalian inginkan atau tidak pernah terpikirkan sebelumnya? 

Kuliah memang ga semudah bagaimana yang ditampilkan di FTV. Ga bakal ada tiba2 jatuh di koridor tabrakan sama cowo, buku-buku berserakan lalu saat kita buku diambil satu-persatu, tangan kita gak sengaja bersentuhan dengan tangan lelaki ganteng yang tidak sengaja menabrak kita, terus kenalan, jadian, putus eh balikan lagi. Kuliah ga semudah dateng ke kampus, nongkrong-nongkrong cantik, pulang, liburan terus wisuda. GAK! Gak pernah ada kuliah semudah itu. Tapi kuliah bisa terasa lebih mudah dan menyenangkan. How? Kuliah di tempat yang sesuai minat bakat, punya teman yang nyambung sama kita dan punya wadah untuk menampung hobi dan pikiran. 

Disini aku ga bakal cerita tentang orang lain. Aku hanya bakal cerita tentang diriku sendiri. Dari aku kecil dulu, cita-cita yang terlintas di pikiran cuma satu. Jadi dokter. Belum ada mimpi lain yang terlintas di pikiran selain menjadi dokter. Namun menjadi dokter bukan perkara gampang. Entah karena memang sangat sulit, atau aku yang memang kurang serius, aku gagal menjadi dokter. Gagal. Aku ga masuk fakultas kedokteran manapun baik dari jalur undangan atau tes tertulis. Dan aku disini sekarang. Menjadi salah satu dari 70-something mahasiswa sastra inggris UNPAD. 

Jujur, membaca memang hobiku. Tapi tidak membaca karya sastra. Tak pernah terpikir sebelumnya menjadi mahasiswa sastra inggris lumayan sulit. Entah apa yang aku pikirkan saat memilih sastra inggris menjadi pilihan ketiga di tes tertulis masuk universitas-ku. Di sastra inggris, kami tidak hanya mempelajari bahasa Inggris. Kami juga mempelajari karya sastra, sejarah, pembentukan kata bahasa inggris, penerjemahan dan menganalisis teks. Tidak mudah memang menjadi mahasiswa sastra. Belum lagi, bagaimana kami meyikapi dosen yang beraneka ragam sifatnya. 

Kadang aku berpikir, kenapa jalanku tidak menjadi dokter saja. Kenapa Tuhan memilih sastra inggris sebagai jalan awal pembuka masa depanku.

Tapi, disitu aku sadar. Tuhan tidak mengizinkan aku menjadi mahasiswa kedokteran karena aku belum bisa merubah kebiasaan burukku menunda-nunda pekerjaan. Tuhan sayang aku karena Tuhan tidak ingin aku menjadi mahasiswa kedokteran yang terlalu santai dan bisa saja berakibat buruk ke masa depanku.

Bersyukur. Tuhan menyuruhku bersyukur lebih banyak. Terima kasih, Allah. Permudah urusanku dan jangan dipersulit. Aamiin.

Tentang Mimpinya

“Feb. kan salah satu keinginan kau, jadi mahasiswa farmasi udah tercapai nih, nah untuk selanjutnya kedepan bakal gimana?”
“gini, Riz. Aku Inshaallah bakal nyelesain S.Farm tahun 2018, lanjut profesi apoteker 1 tahun. Begitu lulus Apt, mau nyari kerja dulu di perusahaan obat atau makanan. Nyari pengalaman dulu. Kumpulin uang, beli motor, mobil, baru nikah. Setelah nikah baru mencoba buat apotek sendiri. Nah yang aku suka dari jadi seorang apoteker, kita gak harus selalu stand by 24 jam di apotek. Pagi tanda tangan di daftar obat apa aja yang ada hari itu, siang kerja di perusahaan obat atau makanan besar, sore pulang dulu ngecek apotek, baru lanjut sampai malam jadi dosen ngajar di ekstensi.”
“terus waktu buat anak istrinya kapan?”
“ya malem setelah aku pulang kerja lah, Riz. Karena aku tau aku bakal sibuk sepanjang hari, hari sabtu atau minggu bakal aku kosongin khusus buat keluarga.”
“terus..siapa orang yang kau pengen jadi istri kau?”
“ya yang bisa ngertiin aku. Yang bisa ngertiin kesibukan aku. Yang bisa ngerti keadaan lingkungan kerja aku.”
“oh gitu. Aamiin ya semoga semua mimpi kau terkabul satu persatu..”