Selasa, 07 April 2015

Bersyukur

Pernah gak sih kalian ngerasin kalian sedang terjebak atau simpelnya, berada di situasi yang ‘salah’ dan tidak kalian inginkan atau tidak pernah terpikirkan sebelumnya? 

Kuliah memang ga semudah bagaimana yang ditampilkan di FTV. Ga bakal ada tiba2 jatuh di koridor tabrakan sama cowo, buku-buku berserakan lalu saat kita buku diambil satu-persatu, tangan kita gak sengaja bersentuhan dengan tangan lelaki ganteng yang tidak sengaja menabrak kita, terus kenalan, jadian, putus eh balikan lagi. Kuliah ga semudah dateng ke kampus, nongkrong-nongkrong cantik, pulang, liburan terus wisuda. GAK! Gak pernah ada kuliah semudah itu. Tapi kuliah bisa terasa lebih mudah dan menyenangkan. How? Kuliah di tempat yang sesuai minat bakat, punya teman yang nyambung sama kita dan punya wadah untuk menampung hobi dan pikiran. 

Disini aku ga bakal cerita tentang orang lain. Aku hanya bakal cerita tentang diriku sendiri. Dari aku kecil dulu, cita-cita yang terlintas di pikiran cuma satu. Jadi dokter. Belum ada mimpi lain yang terlintas di pikiran selain menjadi dokter. Namun menjadi dokter bukan perkara gampang. Entah karena memang sangat sulit, atau aku yang memang kurang serius, aku gagal menjadi dokter. Gagal. Aku ga masuk fakultas kedokteran manapun baik dari jalur undangan atau tes tertulis. Dan aku disini sekarang. Menjadi salah satu dari 70-something mahasiswa sastra inggris UNPAD. 

Jujur, membaca memang hobiku. Tapi tidak membaca karya sastra. Tak pernah terpikir sebelumnya menjadi mahasiswa sastra inggris lumayan sulit. Entah apa yang aku pikirkan saat memilih sastra inggris menjadi pilihan ketiga di tes tertulis masuk universitas-ku. Di sastra inggris, kami tidak hanya mempelajari bahasa Inggris. Kami juga mempelajari karya sastra, sejarah, pembentukan kata bahasa inggris, penerjemahan dan menganalisis teks. Tidak mudah memang menjadi mahasiswa sastra. Belum lagi, bagaimana kami meyikapi dosen yang beraneka ragam sifatnya. 

Kadang aku berpikir, kenapa jalanku tidak menjadi dokter saja. Kenapa Tuhan memilih sastra inggris sebagai jalan awal pembuka masa depanku.

Tapi, disitu aku sadar. Tuhan tidak mengizinkan aku menjadi mahasiswa kedokteran karena aku belum bisa merubah kebiasaan burukku menunda-nunda pekerjaan. Tuhan sayang aku karena Tuhan tidak ingin aku menjadi mahasiswa kedokteran yang terlalu santai dan bisa saja berakibat buruk ke masa depanku.

Bersyukur. Tuhan menyuruhku bersyukur lebih banyak. Terima kasih, Allah. Permudah urusanku dan jangan dipersulit. Aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar