Langsung ke konten utama

good friends stay forever

  
Aku punya teman. Seorang perempuan, sama sepertiku. Sudah cukup lama aku mengenalnya tapi menjadi akrab dengannya, barulah sekitar 2 atau 3 tahun yang lalu. Dia teman sekelasku saat SMA. Kita menjadi teman sekelas dari kelas 1. Dia adalah perempuan yang tidak terlalu menyukai girly stuffs seperti yang banyak perempuan senangi. Dia rajin. Beberapa kali dulu, dia tidak mengikuti remedial mata pelajaran yang hampir satu kelas harus ikut remedial karena nilai di bawah rata-rata. Dia rapi walau kadang dia membiarkannya tak tertata. Aku senang memerhatikan isi tempat pensil, isi tas saat dia mengambil buku dan penampilannya. Buku-bukunya tersampul rapi dengan sampul coklat dan dilapis lagi dengan sampul plastik. Dia punya imajinasi yang luas. Bacaannya tidak sama sepertiku. Disaat aku hanya membaca sekedar novel remaja yang mudah tertebak jalan dan akhir ceritanya, dia membaca banyak novel fantasi yang mempunyai halaman tak kurang dari 500. Dia tekun. Aku ingat sekali dulu, semenjak dia menggunakan hp yang bisa mendengarkan lagu, dia sangat rajin mendengarkan lagu Green Day, Pretty Reckless dan music-musik klasik. Aku rasa tak ada satupun lagu dari grup music/band tersebut yang tidak dia punya. Dia adalah perempuan yang mau berjuang keras. Aku ingat betul dia pernah bilang, dia tidak bisa memainkan alat music apapun. Sama sepertiku. Tetapi dalam beberapa bulan saja, dia sudah bisa menghapal kunci gitar dan memainkannya. dia pintar menggambar. Pernah dulu kami ditugaskan menggambar apapun yang ada di lingkungan sekolah dan gambarnya mirip dengan aslinya. Gambarku? Ah entahlah aku memang tidak memiliki sedikitpun bakat menggambar. Dia pernah bercerita ingin menjadi arsitek. Tetapi, orang tuanya tidak mengizinkan dia kuliah di luar kota sehingga saat SNMPTN undangan dia hanya memilih satu pilihan di universitas yang ada di kota kami dan dia diterima.

Ah. Aku merindunya.

Tak banyak hal yang aku ketahui darinya sekarang selain yang aku lihat di social media dan chat yang mulai jarang. Tetapi bagaimanapun, aku tau dia selalu ada. Teringat lagi, saat sekolah dulu dia adalah teman yang paling sering aku ajak cerita dan curhat tentang apapun. Tentang pelajaran sampai tentang kekasihku saat itu. Dia pun sering bercerita tentang mulai dari seorang yang dia taksir diam-diam sampai tentang pacarnya saat itu. Kami sering menyama-nyamakan sifat dan hal-hal yang terjadi di sekitar kami alih-alih karena elemen kami sama; air.

Buatmu, teman baikku. Janganlah bersedih atas hal yang mengahalangimu agar lebih bahagia. Janganlah bingung dengan pilihan apapun yang sedang kau jalani dan janganlah kau memandang dunia hanya dari satu sisi saja. You deserve your own happiness.

Dear, Annida.



                                                                                                                        cheers, Rizka

Komentar

Postingan populer dari blog ini

my high school buddies and their first destination!

mau coba ngedata dimana aja anak DIE melanjutkan studi mereka. acak soalnya aku gak hapal absen and correct me if im wrong :)

1. ABDUL HASIB WIBISONO = Perminyakan,  Universitas Pembangunan Nasional Veteran, Jogja
2. ADRA UTAMI SALFIERIATY = PPA BCA
3. AGA FIR IKBAR = Teknik Mesin, Universitas Sriwijaya
4. AMRINA ROSADA = AKPER GAPU, Jambi
5. ANNIDA RANI CHAIRUNNISAH = Teknologi Hasil Pertanian, Universitas Jambi
6. APRILISA ISWAHYUNI = Kedokteran Gigi, Universitas Baiturrahma
7. BUCHDIYAN = BINUS, tapi kemarin terakhir dengar bucek diterima di ITS. (gatau fakultas apa _--_)
8. CHESSY NABILA =  Teknologi Hasil Pertanian, Universitas Jambi
9. FADHLAN MAULANA = Psikologi, Universitas Jambi
10. FADHOL YUDHAGAMA = Teknik Sipil, Universitas Islam Indonesia, Jogja
11. ELENA PUTRI = Pendidikan Kimia, Universitas Jambi
12. DWI RIFANDI = Pertambangan, Universitas Sriwijaya
13. INDAH MEDIANTI = Desain Interior, ITENAS
14. M. AGUNG PRASETYO = Teknik Sipil, Universitas Sriwijaya
15. LISA TRI AYU…

Akhirnya Sampai di The Lodge Maribaya.

Haai! Jadi, kemarin (selasa, 6 desember 2016) Febri tiba-tiba ngeline nanyain aku beres kuliah jam berapa. Karena kemarin aku cuma 2 kelas dan selesai sekitar jam 11, dia tiba-tiba aja bilang “kelar kau kelas, jalan aja yuk. Bosen nih.” Hmm hehee Rizka sih ngikut2 aja kan ya, Feb. yaudah.. kelar kelas, ketemuan di ATM center, terus ke kosan aku bentar ngambil monopod kamera dia. Di jalan menuju kosan, Febri bilang “aku mau nunjukin sesuatu. Yang sangat berguna buat kau. Tapi nanti bae, habis ambil monopod.” Yaudah kan rasa penasarannya ditahan dulu. Begitu aku turun lagi sesudah ngambil monopod, di teras kosan dia bilang lagi “liat sana dulu, aku keluarin sesuatu yang sangat berguna untuk kau.” Begitu aku balik badan lagi, dan ternyata yang dia pegang adalah……. Tas untuk kamera dia. YA. Sangat berguna buat aku, Feb :) sebel kan ya ternyata dia diem-diem belanja  online tas kamera itu :/ WKWKWK
Sekitar jam 12, begitu selesai beres-beres isi TAS kamera BARU, kami pergi ke Bandung. Ya se…

Thanks, dude.

We haven't meet for years. but when I said I want to share my heart-breaking (at least for me) story, he quickly say "okay i'll pick you up tomorrow at 4 P.M. where are we going? But if tomorrow you or me can't make it, let's just have a video call."
Nothing special between us. Just friend, but I'm happy to share my story with him. At least, as a man, he didn't judge me for being too fool because that toxic relationship. 
Thanks, dude.