Jumat, 12 Juni 2015

good friends stay forever

  
Aku punya teman. Seorang perempuan, sama sepertiku. Sudah cukup lama aku mengenalnya tapi menjadi akrab dengannya, barulah sekitar 2 atau 3 tahun yang lalu. Dia teman sekelasku saat SMA. Kita menjadi teman sekelas dari kelas 1. Dia adalah perempuan yang tidak terlalu menyukai girly stuffs seperti yang banyak perempuan senangi. Dia rajin. Beberapa kali dulu, dia tidak mengikuti remedial mata pelajaran yang hampir satu kelas harus ikut remedial karena nilai di bawah rata-rata. Dia rapi walau kadang dia membiarkannya tak tertata. Aku senang memerhatikan isi tempat pensil, isi tas saat dia mengambil buku dan penampilannya. Buku-bukunya tersampul rapi dengan sampul coklat dan dilapis lagi dengan sampul plastik. Dia punya imajinasi yang luas. Bacaannya tidak sama sepertiku. Disaat aku hanya membaca sekedar novel remaja yang mudah tertebak jalan dan akhir ceritanya, dia membaca banyak novel fantasi yang mempunyai halaman tak kurang dari 500. Dia tekun. Aku ingat sekali dulu, semenjak dia menggunakan hp yang bisa mendengarkan lagu, dia sangat rajin mendengarkan lagu Green Day, Pretty Reckless dan music-musik klasik. Aku rasa tak ada satupun lagu dari grup music/band tersebut yang tidak dia punya. Dia adalah perempuan yang mau berjuang keras. Aku ingat betul dia pernah bilang, dia tidak bisa memainkan alat music apapun. Sama sepertiku. Tetapi dalam beberapa bulan saja, dia sudah bisa menghapal kunci gitar dan memainkannya. dia pintar menggambar. Pernah dulu kami ditugaskan menggambar apapun yang ada di lingkungan sekolah dan gambarnya mirip dengan aslinya. Gambarku? Ah entahlah aku memang tidak memiliki sedikitpun bakat menggambar. Dia pernah bercerita ingin menjadi arsitek. Tetapi, orang tuanya tidak mengizinkan dia kuliah di luar kota sehingga saat SNMPTN undangan dia hanya memilih satu pilihan di universitas yang ada di kota kami dan dia diterima.

Ah. Aku merindunya.

Tak banyak hal yang aku ketahui darinya sekarang selain yang aku lihat di social media dan chat yang mulai jarang. Tetapi bagaimanapun, aku tau dia selalu ada. Teringat lagi, saat sekolah dulu dia adalah teman yang paling sering aku ajak cerita dan curhat tentang apapun. Tentang pelajaran sampai tentang kekasihku saat itu. Dia pun sering bercerita tentang mulai dari seorang yang dia taksir diam-diam sampai tentang pacarnya saat itu. Kami sering menyama-nyamakan sifat dan hal-hal yang terjadi di sekitar kami alih-alih karena elemen kami sama; air.

Buatmu, teman baikku. Janganlah bersedih atas hal yang mengahalangimu agar lebih bahagia. Janganlah bingung dengan pilihan apapun yang sedang kau jalani dan janganlah kau memandang dunia hanya dari satu sisi saja. You deserve your own happiness.

Dear, Annida.



                                                                                                                        cheers, Rizka

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar