Kamis, 08 Desember 2016

An Open Letter for Febriansyah Putra #3

Dear Febriansyah Putra.

Terkait dengan open letter aku #1 yang aku tulis beberapa minggu yang lalu, jadi bagaimana hasil pemilu-nya, Feb?

Jadi, sebelum aku tulis surat untuk Febri, boleh lah ya cerita sedikit..

kemarin.. 7 December 2016, merupakan hari yang mendebarkan untuk Febri (aku juga sih). Yaitu penghitungan suara pemilihan BEM di fakultasnya. Sorenya, Febri ngeline “aku di kampus yah ini. Baru kelar kuliah, ini mau pengitungan suara.” DHEG. Penasaran kan hasilnya bagaimana.. terus, sekitar jam 7, Febri belum juga ngabarin. Beberapa menit kemudian, liat instagram story dan ada temennya yang update video yang ada Febri (dan calon ketua BEM yang lain) dan ada caption ‘Congratulation.’ HADUH. Febri belum ngabarin sama sekali dan aku sama sekali gak mau dapat kabar duluan dari orang lain jadi video itu langsung aku skip :”)
beberapa puluh menit kemudian, Febri ngeline satu kata doang tapi sukses buat aku deg-degan dan penasaran.. “Alhamdulillahhh.. :”)))” loh, Feb. Alhamdulillah buat apa? Dan line aku baru dibalas 15 menit kemudian. “Ilham (calon ketua BEM yang lain) yang dapat. Alhamdulillah. Legaaaaa” okaaaay Feb kini aku tau hasilnya :”) dan aku lagi malas banget ngetik chat panjang lebar jadi Cuma aku balas “aku telfon sekarang boleh, ya?” dan dibalas “aku masih di atas ini. Salam-salaman, foto sama beres-beres. Ketemu langsung aja mau gak?” yaudah… dia jemput dan kita ngobrol di Wake Up.
Waktu di Wake Up, Febri cerita semuanya kronologis hari itu gimana. Aku cuma mendengarkan dan dia meminta aku merespon semua cerita dan kejadian yang terjadi hari itu..

Jadi gini, Feb.. sebenarnya, bukan suatu persoalan yang besar kan tidak terpilih menjadi ketua BEM? Kembali ke tujuan awal kau yang dulu-dulu pernah kau ceritain ke aku. Kau mau memajukan Kemafar dalam berbagai bidang, kan? Dan kalau tujuan kau memang benar-benar itu, aku yakin kau bisa memberikan masukan dari yang kau tulis di visi misi kau untuk Ilham sebagai ketua BEM. Dan menurut aku juga, karena kau sama Ilham sama-sama koor angkatan 2014, kalian berdua bisa menyatukan beberapa ide berbeda untuk direalisasikan. Sama kayak yang sudah kalian lakuin ke angkatan 2014. Dan seperti yang aku bilang di awal, kau gak terpilih sebagai ketua BEM merupakan masalah yang (sangat) besar kalau tujuan utama kau bukan untuk memajukan Kemafar, tapi karena kau mencari ketenaran sebagai ketua BEM eheheee :ppp tapi aku tau kau gak kayak gitu ;)

Feb, aku tau. Sangat tau apa yang sudah kau lakukan dari awal kau daftar jadi ketua BEM sampai akhirnya penghitungan suara kemarin. Ngumpulin berkas pendaftaran saat sudah H-1, bikin visi-misi, membentuk tim sukses, ngumpul dengan tim sukses, ngeprint ini itu untuk kebutuhan kampanye, kampanye yang hampir tiap hari sampai debat terbuka. Semua kau lakuin dengan sebaik mungkin. Semua kau lakuin dengan senang juga, kan. I know you’ve done your best whatever the result is, Feb.

Aku, sebagai pacar kau dan sebagai orang yang tau perjalanan  dan perjuangan kau dari awal, jujur bae… bangga nian sama kau. Bangga karena ya.. karena kau sudah berani untuk memulai komitmen dan daftar jadi ketua BEM. Bangga juga karena aku melihat sendiri bagaimana kau memperjuangkan apa yang kau mau.

Dan sekali lagi, aku seneng waktu denger kemarin kau bilang “aku yakin aku gak terpilih jadi ketua BEM ini karena ada sesuatu yang lebih lebih lagi sedang menunggu aku.” Aku seneng karena kau dengan lapang dada menerima kekalahan dan tetap optimis untuk melihat ke depan. Feb, ada sekian ratus orang yang memilih kau. Mereka percaya loh untuk diketuai sama kau :)

Tetap lah jadi Febri yang penuh dengan energi positif seperti ini. Tetaplah menjadi Febri yang selalu penuh semangat untuk mendapatkan apa yang kau mau.


..dan yang terakhir, aku akan selalu ada dan siap untuk mendengarkan seluruh cerita dan keluh kesah kau, Feb. :)


Akhirnya Sampai di The Lodge Maribaya.

Haai! Jadi, kemarin (selasa, 6 desember 2016) Febri tiba-tiba ngeline nanyain aku beres kuliah jam berapa. Karena kemarin aku cuma 2 kelas dan selesai sekitar jam 11, dia tiba-tiba aja bilang “kelar kau kelas, jalan aja yuk. Bosen nih.” Hmm hehee Rizka sih ngikut2 aja kan ya, Feb. yaudah.. kelar kelas, ketemuan di ATM center, terus ke kosan aku bentar ngambil monopod kamera dia. Di jalan menuju kosan, Febri bilang “aku mau nunjukin sesuatu. Yang sangat berguna buat kau. Tapi nanti bae, habis ambil monopod.” Yaudah kan rasa penasarannya ditahan dulu. Begitu aku turun lagi sesudah ngambil monopod, di teras kosan dia bilang lagi “liat sana dulu, aku keluarin sesuatu yang sangat berguna untuk kau.” Begitu aku balik badan lagi, dan ternyata yang dia pegang adalah……. Tas untuk kamera dia. YA. Sangat berguna buat aku, Feb :) sebel kan ya ternyata dia diem-diem belanja  online tas kamera itu :/ WKWKWK

Sekitar jam 12, begitu selesai beres-beres isi TAS kamera BARU, kami pergi ke Bandung. Ya seperti biasa melewati macetnya Cileunyi, Cibiru dan Ujung Berung, dan kami masih bingung mau pergi ke mana. “yaudah ke Lembang bae. Sekalian solat zuhur di sana.” Dan lagi, melewati macetnya Bandung, akhirnya kami sampai di Lembang. Masih bingung ni mau ke mana. Liat plang dan akhirnya kami memutuskan untuk ke tempat yang beberapa bulan lalu batal kami kunjungi karena terlalu jauh dan gak nyampe-nyampe. Yaitu The Lodge Maribaya. Tempat wisata yang lagi hits banget di instagram. Lokasi yang sangat jauh dan akses yang agak sulit karena jalan aspal yang masih bolong-bolong dan banyak bebatuan. Akhirnya setelah sekitar setengah jam perjalanan dari mesjid Lembang tempat kami solat tadi, kami menemukan plang / petunjuk masuk ke The Lodge Maribaya.

Sesampainya kami di sana, setelah memarkirkan motor, kami membeli tiket masuk seharga Rp. 15.000/orang (Rp. 25.000/org saat weekend) dan segera menuju ke dalam tempat wisata The Lodge Maribaya. The best part of the day adalah kami datang saat weekday jadi tidak terlalu ramai. Ada banyak wahana untuk foto seperti Sky Tree, Sky Swing dan beberapa wahana untuk foto lainnya. Emang sih, rasanya kurang lengkap kalau ke The Lodge tapi gak foto di sky tree dll. Tapi, yang bikin aku sama febri males banget untuk foto di wahana itu adalah, ngantrinya panjang banget untuk kesempatan foto sekitar 10 menit dan juga karena waktu itu sudah jam 3 lewat dan kami takut kesorean pulang kalau ngantri untuk foto dulu. Yaudah, deh.. kami cuma foto dengan latar belakang hutan pinus yang indahhh! Waktu itu, ketika kami sudah mau pulang, gerimis yang lumayan deras pun turun dan males banget kalau harus pulang hujan-hujanan, akhirnya kami berteduh dulu di situ sambil menunggu hujan sekitar setengah jam. Yeaaay akhirnya kesampean ke The Lodge Maribaya ya, Feb!












xx

Jumat, 18 November 2016

An Open Letter For Febriansyah Putra #2

Dear Febriansyah Putra.. anak bungsu yang sayang keluarga.

ada yang minta lagi nih ditulisin open letter setelah baca open letter yang pertama tadi :))) yaudah karena rizka baik, nih ditulisin lagi~

Bahas apa ya kali ini? Hm kayak yang aku sebut di awal postingan ini aja deh. Tentang Febriansyah, si anak bungsu yang sayang keluarga.

2 setengah tahun pacaran sama kau, waktu yang lumayan lama lah ya untuk aku mengenal kau. Dan aku pengen ngungkapin pendapat aku tentang bagaimana kau dan keluarga. Dari pertama aku kenal (lebih dekat) sama kau, aku bisa dengan yakin menilai kau adalah tipe laki-laki yang sayang banget sama keluarga. Coba aku ceritain satu-satu menurut pandangan aku selama ini ya, Feb.

Mulai dari kakak kedua kau yang biasa kau panggil ‘Bang Bayu’. Dulu, kau sering cerita kalau sering berselisih paham sama bang bayu. Kalau kau ngutarain pendapat tentang sesuatu, tapi gak sejalan sama pendapat bang Bayu. Kadang kau juga sering cerita kau kesel sama bang Bayu. Terus apa yang bikin aku bisa bilang kau sayang sama bang Bayu? Kejadian yang baru terjadi akhir-akhir ini. Bang Bayu mengalami kecelakaan dan harus berada di ruang ICU untuk beberapa hari. Karena sudah 3 hari dan Bang Bayu masih koma dan Papa kau harus pergi ke Tungkal untuk kerja dan cuma ada mama di Jambi untuk nunggu Bang Bayu, kau dengan yakin mengatakan untuk pulang ke Jambi walaupun harus mengorbankan kuliah satu minggu untuk bantu jaga bang bayu. kau pun pulang ke Jambi selama satu minggu. Karena bang bayu masih berada di ruang ICU jadi kau harus tidur ngemper di depan ruang ICU yang dingin dan hanya dialasi karpet dan selimut tiap hari selama satu minggu. Bolak-balik rumah-rumah sakit, ngurus keperluan bang bayu dan bacain Al-quran buat bang bayu. Menurut aku, hal itu Kau lakukan karena kau sayang sama bang bayu. Walalupun sering berselisih paham, dia tetap saudara kandung kau. Dan juga hadirnya Arsy, ponakan perempuan kau juga menjadikan kau lebih dekat dengan bang bayu.  

Kakak pertama kau, kak Anton.  Menurut aku, kak Anton adalah saudara kau yang paling dekat sama kau. Kau sering izin ke aku, pergi dengan kak anton. Entah itu beli makanan malam-malam, cari pokemon, ke bengkel dan masih banyak lagi. Bahkan kau sama kak anton sering tukeran barang, kan. Motor, jaket, headset, baju. Kak anton juga sering titip sesuatu ke kau juga kan kalau kau ke bandung. Dan tanpa harus ada sesuatu yang terjadi, aku bisa dengan yakin menilai kau sayang ke kak anton. Sama seperti kau sayang ke bang bayu. Dan dari kak anton, kau resmi menjadi oom dengan hadirnya rayyan, ponakan pertama kau :D

Dengan mama.. kau sangat sangat sangat sayang sama mama. Hal yang dapat aku lihat langsung adalah tiap kau pulang ke Jambi, dengan senang hati dan tanpa mengeluh sedikitpun, kau rela jadi ‘ojek’-nya mama dan siap mengantarkan mama kemana pun. Ke kantor, pasar keluarga (walaupun kau Cuma nunggu di motor), bank, jamtos dan ke semua tempat. Kalau di rumah dan mama lagi masak, kau juga dengan senang hati nolongin mama walaupun akhirnya disuruh masuk lagi ke kamar karena cuma ngeberantakin dan buat mama kerja dua kali dengan ngeberesin kerjaan kau :)))) dan tiap aku iseng tanya “kau sayang mama?” dan kau dengan yakin menjawab “ya sayanglahhhh!”. Kau juga yang nemenin dan jagain mama kalau papa lagi di tungkal. mungkin dak semua perempuan satu pemikiran sama aku.. tapi, aku sangat gemash sama laki-laki yang anak mama dan sayang bgt sama mama kayak kau :D karena katanya, laki-laki yang sayang mama dan memperlakukan mamanya dengan hormat, pasti tau bagaimana memerlakukan wanitanya denga sama lembutnya~ eaaaaa. Gemeshgemeshgemesh!!!!

Dengan papa.. kau sangat dekat dengan papa kayak kau ke mama. Sering juga pergi kesini-situ nemenin papa. Bantu papa ini itu kayak cuci mobil, vespa. Kau juga sering ngobrolin banyak hal kan dengan papa? Aku kurang bisa mengingat bagaimana cerita kau tentang keseharian bersama papa.. tapi, ada satu hal, feb yang bikin aku salut dengan salah satu cara nunjukin sayang kau ke papa. Yaitu, kau pernah bilang, salah satu alasan kau kuliah di farmasi adalah kau pengen bikin obat buat papa. Yang kata kau obat semakin mahal dan kau pengen kau aja yang buat obat untuk papa jadi papa dak perlu keluar uang mahal-mahal lagi untuk beli obat.. aku salut nian sama alasan ini.. salah satu cara kau membuktikan bakti dan sayang kau ke papa.

Tetap jadi seperti ini ya. Adek rian yang sayang mama papa kak anton bang bayu :)


P.s buat pembaca lain: kalau lagi ngobrol sama febri, aku memang lebih sering menyebut ‘mama’ atau ‘papa’ untuk orang tua febri daripada ‘oom’ dan ‘tante’. Tapi tidak saat bertemu atau berbicara di telfon. Aku tetap memanggil mereka ‘oom’ dan ‘tante’ ;)

An Open Letter For Febriansyah Putra #1

Dear, Febriansyah Putra.

Tiba-tiba ingin aja nulis semacam surat gini buat kau. Dalam rangka apa ya? Oiya. Dalam rangka apresiasi pencapaian satu dari keinginan terbesar kau.

Dua tahun yang lalu, waktu kau baru aja keterima dan daftar ulang di UNPAD, temen aku, yang kau tau siapa, the one and only @vinafk dengan menggebu-gebunya bilang “semoga febrinya kamu itu ntar gabung BEM atau apalah di fakultasnya jadi dia sibuk terus kamunya ngerasain ditinggal sibuk (kayak aku)”. Iya vina iya :) terkabul blas doa vina. Kau 2 tahun berturut-turut jadi anggota/staff BEM. Tahun pertama jadi staff PSO dan tahun kedua jadi staff HRD. An important position, I know. Rapat bidang paling sedikit 2 kali seminggu. Belum lagi rapat yang lain kayak DPH PEKA, semnas, dll dll. Bener-bener ditinggal sibuk nih aku. Bisa gak ketemu seharian atau bahkan seminggu karena rapat yang gak berhenti-henti. Walaupun banyak drama, aku maklum kau sibuk karena emang itu kewajiban kau dan ya harus kau jalanin, kan? Tapi.. makasih banyak ya untuk waktu yang diluangin atau bahkan waktu yang harus dicuri sampai kau harus bolos rapat demi ketemu aku. Terima kasih banyak, Febriansyah.

Terus sekitar sebulan yang lalu kau tiba-tiba bilang ke aku “yang, kalau misalnya aku daftar jadi ketua BEM gimana?”.. Wow. Just wow :)) ya aku utarain pemikiran aku gimana misalnya kalau kau jadi ketua BEM dan terpilih. Ada lebih banyak lagi hal yang harus kau awasi, pertanggungjawabkan, rapat, ini itu.. karena ya menurut aku, ketua BEM itu jabatan yang gak main-main. Karena orang-orang akan secara langsung bisa melihat dan menilai profesionalitas dan kredibilitas kau sebagai pemimpin organisasi. Pertanyaan aku, kau siap gak berkomitmen dan menjalankan segala hal yang sudah kau rencanakan (visi-misi) yang kau utarakan waktu kampanye, saat kau terpilih menjadi ketua BEM nanti? Dan kalau nanti kau terpilih menjadi ketua BEM Kemafar, siap gak kau bertanggung jawab memegang amanah satu fakultas dan terlebih lagi amanah orang-orang yang sudah memilih kau? Orang yang sudah percaya kau untuk menjadi pemimpin mereka? Kalau kau siap, silahkan maju.

Dan dari aku sendiri, sebagai pacar kau, aku selalu mendukung kau Feb. apapun keputusan dan jalan yang sudah kau pilih. One thing that you have to know is, you got my back. Cerita ke aku tentang apapun yang mau kau ceritain. Mau itu cerita seneng, sedih atau kalau kau lagi marah sekalipun. Kalau memang perlu, kita cari jalan keluarnya sama-sama kalau emang kau butuh pendapat aku.

Doa aku..semoga kau terpilih jadi ketua BEM. Semoga kau bisa amanah menjalankan kewajban. Cz I know this is going to be a big impact for your career ahead :)

Sekian itu aja dari aku..


Oiya. Pertanyaan tambahan. Siap gak menghadapi drama yang mungkin akan sedikit bertambah? Heheeee~ goodluck, by! I am a proud girlfriend ;)









Kamis, 03 November 2016

Mencoba Ikhlas dan Berdamai.

Sudah hampir satu tahun belakangan ini aku menyimpan perasaan sakit hati kepada seseorang. Berawal dari suatu kejadian yang tak ingin diingat-ingat lagi dan ternyata efek sakit hatinya berlanjut sampai beberapa bulan belakangan ini.

Jujur saja, menyimpan rasa sakit hati itu..tidak enak. Kemana-mana seperti membawa kebencian yang walaupun tidak bertambah setiap harinya, tapi rasa benci dan tidak suka itu tetap ada. Tiap hari dilalui dengan prasangka buruk walaupun hal buruk itu belum tentu benar-benar terjadi. Setelah sekian bulan berlalu, aku sadar hal ini tidak boleh terus terjadi. Aku tidak seharusnya memendam sakit hati seperti ini karena sebenarnya hal ini bisa dibicarakan dan diselesaikan baik-baik. Aku pun mencoba berdamai dengannya. Tetapi, hal yang paling penting sebelum aku berdamai dengannya adalah aku harus berdamai dengan diriku sendiri terlebih dahulu. Jujur saja, berdamai dengan diri sendiri terkadang lebih susah dibandingkan berdamai dengan orang tersebut. karena, percuma saja jika sudah berdamai dengan yang bersangkutan tapi dari dalam diri sendiri masih tidak bisa untuk menerima perdamaian tersebut.

Beberapa hari ini, aku belajar untuk berdamai dengan diri sendiri dan memaafkan dengan ikhlas. Entah sudah ada berapa kejadian yang kebetulan terjadi dan akhirnya mau tidak mau membuatku berdamai dengan diri sendiri. Karena memalsukan senyum tidak hanya bibir dan muka yang butuh tenaga. Tapi juga hati, ego dan pikiran.


Gnight!



Rabu, 19 Oktober 2016

Tentang Siapa Yang Harus Bayar

Kemarin, ada teman yang bertanya tentang bagaimana konsep bayar”an aku sama Febri kalau lagi makan atau jalan. Itu membuatku teringat, beberapa waktu yang lalu, ada juga seorang teman yang bertanya: “Rizka kalo lagi jalan sama Febri, yang bayar siapa?”. Terus terang, pertanyaannya membuat aku berpikir bagaimana aku dan Febri selama ini. Lalu aku jelaskanlah kepada dia kalau saat jalan (terutama ke Bandung), untuk makan maka aku dan Febri akan membayar jumlah makan kami masing-masing. Juga untuk biaya masuk ke suatu tempat yang mengharuskan untuk beli tiket. Bagaimana dengan uang bensin? Sebelum pergi ke Bandung, aku dan Febri mampir dulu ke SPBU dan kami patungan untuk membayar uang bensin karena motor dan bensin akan dipakai oleh kami berdua selama di perjalanan, kan? Tidak berbeda jauh dengan perjalanan ke Bandung, di Jatinangor pun aku dan Febri terbiasa untuk bayar masing-masing. Entah untuk makan, nonton di 21 dan jajan.

Lalu dia bercerita bahwa selama ini kalau dia dan pacarnya jalan-jalan, maka merupakan suatu kewajiban untuknya untuk membayar semua kegiatan dia dan pacarnya hari itu. Bensin, makan, nonton atau bahkan belanja pacarnya (mungkin). Dia lanjut bertanya “kok kamu mau sih Riz kalau jalan-jalan atau makan, sepenuhnya bayar sendiri?”. Jawabannya cuma satu: Febri adalah pacar aku. Bukan suami yang wajib bayar semua keinginan dan keperluan aku. Kami membiasakan untuk bayar masing-masing dari awal pacaran untuk kebaikan dan kelancaran hubungan kami (ea). Adalah untuk agar aku tidak kebiasaan kalau jalan minta dibayarin dia dan kalau ternyata dia lagi gak ada uang, malah ngambek. Dan juga agar dia tidak canggung atau ragu mengajak aku jalan kalau memang uangnya hanya cukup untuk bayar kebutuhan dia sendiri. Ya memang karena, kami tidak ada kewajiban untuk itu.

Tetapi dengan prinsip ini, tidak menutup kemungkinan kadang-kadang aku dan dia saling traktir kalau memang lagi punya uang lebih atau momen tertentu. Biasanya sih diawali kalimat “makan di sana yuk. Aku traktir lah kali ini.” Tetapi, tetap.. kami tidak membiasakan diri untuk bergantung atau malah memaksa untuk minta dibayarin.

Aku pernah punya pacar yang egonya lelakinya sangat tinggi dalam masalah bayar-bayaran ini. Selama pacaran,  biaya untuk nonton di bioskop dan makan berdua dia yang tanggung. Saat aku iseng mengajaknya ke toko buku pun, dia membayar buku yang ingin kubeli dan sudah siap untuk aku bayar sendiri. Prinsipnya adalah: lelaki harus bertanggung jawab dan membayar semua keperluan pacar. Pacar loh ya bukan istri. Saat itu perasaanku campur aduk. Siapa yang tidak senang ditraktir, kan. Tapi jujur saja, aku merasa tidak enak dengannya sampai sekarang. Aku bukan tanggungannya dan dia mengeluarkan banyak uang untukku. Bahkan saat kami sudah putus, egonya masih sangat tinggi untuk masalah itu. aku dan teman-teman janjian untuk bertemu dan menonton film. Saat tiket sudah dipesankan oleh temanku dan aku sudah mau membayar uang tiket seharga 50ribu, tiba-tiba dia menyodorkan 100ribu dan bilang “ini aku sekalian bayarin rizka.” What……….. tak lupa berterima kasih dan aku sangat merasa tidak enak waktu itu dengannya. Bahkan ketika kami sudah putus, dia merasa dia masih harus membayar untuk keperluanku.

Menurutku, laki-laki yang membayar untuk keperluan pacarnya saat pergi jalan-jalan bukanlah sesuatu yang salah. Tetapi perempuan pun harus tau diri dan mengerti jika suatu saat pacarnya tidak punya uang lebih untuk membayar semua keperluan untuk jalan-jalan berdua. Karena sesungguhnya laki-laki yang belum menjadi suami, tidak memiliki kewajiban untuk hal itu.

salam dari kami, anak kuliahan yang masih bergantung
pada uang bulanan kiriman dari orang tua!
Cheers!

Selasa, 16 Agustus 2016

Here We Go.. PANTAI!

Sebenarnya, wacana pergi ke pantai sudah terlintas dari berbulan-bulan atau bahkan dari setahun lebih yang lalu. Tapi hanya menjadi wacana karena mager lah susun rencana ke pantainya, kurang orang dan yang paling penting adalah PANTAINYA JAUH. Perlu setidaknya 4 jam untuk sampai ke pantai terdekat dari Bandung yaitu pantai Santolo di Garut. Sebenarnya, ada banyak pantai yang tidak terlalu jauh dari Bandung. Contohnya saja pantai Ujung Genteng (Sukabumi), Rancabuaya (Garut), Pantai Kepulauan Seribu (Jakarta), dan Pantai Pangandaran (Ciamis).

Awal tahun 2016, aku menjalani KKN selama 1 bulan di desa Jatiraga, Majalengka yang jauh dari keramaian dan hampir mendekati perbatasan Majalengka – Indramayu (bakal diceritai post selanjutnya). Sebulan dengan keadaan yang menurutku lumayan membuatku jenuh dan bosan, akupun ingin refreshing dan karena kuliah belum dimulai, aku mengajak Febri untuk pergi ke pantai dan pilihan jatuh ke Pantai Pangandaran. Karena rasanya tidak mungkin kalau yang pergi hanya aku berdua Febri dan juga supaya biaya patungan kendaraan dan bensin tidak terlalu mahal, kami pun mengajak Ika, Andre, Desy dan Rejak untuk ikut bersama kami. Tapi karena suatu hal (yang akhirnya juga tidak jadi), Desy tidak ikut dan digantikan oleh Alfa Reza.

Setelah dirundingkan, kami akan pergi pada kamis malam tanggal 12 februari dan pulang lagi ke Jatinangor keesokan harinya. Setelah memesan mobil, aku dan Febri menuju ke kontrakan dan di sana sudah ada Ika, Andre, Alfa dan Rejak. Kami pergi jam 12 malam karena berencana untuk mengejar sunrise. Tetapi, hujan di sepanjang jalan membuat kami tidak dapat berharap banyak untuk mendapatkan langit yang cerah pagi nanti. Setelah berhenti di toilet umum untuk buang air dan cuci muka, juga berhenti di Alfamart untuk sekedar beli cemilan dan minuman, kami melanjutkan perjalanan ke Ciamis. Karena kami pergi tengah malam dan tidak macet, kami sampai lebih cepat dari perkiraan. Yang seharusnya lebih dari 6 jam perjalanan, sebelum subuh kami sudah sampai di area pantai Pangandaran. Terus bingung mau ngapain….. akhirnya karena banyak warung makan yang buka, kami makan dan beristirahat di warung makan itu. Rencana ingin melihat sunrise pun sepertinya bisa terlaksana. Tetapi kami berada di belahan pantai pangandaran barat yang berombak besar. Setelah selesai makan, kami pun menuju ke pantai pangandaran timur yang berombak lebih tenang.

Begitu kami sampai di pantai pangandaran timur, gerimis masih turun rintik tapi tidak menganggu kami untuk bermain di pantai. Airnya jernih tetapi karena kami berada di pinggir pantai, kami hanya dapat melihat pasir putihnya saja. 
















Setelah puas mendinginkan kaki di situ, kami menuju cagar alam yang berjarak sangat dekat dari tempat kami berada. Belum sampai kami masuk ke cagar alam, sudah banyak warga lokal yang menawarkan paket diving ke kami. Setelah menemukan harga yang cocok, kami naik ke perahu untuk menuju ke tengah laut. Begitu sampai di tengah laut dan mesin perahu dimatikan, kami dapat melihat ke bawah air dan banyak sekali ikan-ikan yang lewat dibawah perahu kami. Kami diperbolehkan memberi makan ikan tersebut dengan roti yang sudah kami bawa. Mereka semua kecuali aku (iyaaa..aku lagi mens hari pertama. SO SAD) turun untuk diving dan karena aku tidak ikut turun, aku menjaga barang-barang mereka agar tidak jauh ke laut. Sebenarnya galau juga sih mau turun atau nggak karena mas2nya bilang gapapa kalau diving pas lagi mens tapi karena hari pertama dan lagi banyak-banyaknya, aku memilih untuk tidak turun dengan alasan kenyamanan dan keselamatan.








Setelah mereka puas diving, mereka pun naik ke perahu dan kami diantar ke bibir pantai yang nyambung ke cagar alam. Untuk menuju ke pintu masuk cagar alam tadi, kami harus berjalan kaki menyusuri jalan setapak yang ada di cagar alam tersebut. ternyata di situ terdapat suatu danau kecil yang berair tawar. Agar badan tidak lengket setalah berenang di air laut menjelang menuju ke pemandian umum, mereka yang tadi diving membilas diri mereka dengan berendam di situ.
Setelah selesai berendam di situ, kami menelusuri jalan setapak tersebut dan tiba-tiba sampai di suatu lapangan yang penuh dengan rusa. Karena di situ ada suatu bangunan yang mempunyai teras, kami beristirahat sebentar di situ sekedar duduk 10 menit sambil melihat rusa. Perjalanan selanjutnya menuju ke pintu masuk cagar alam tadi hanya berkisar 10 menit. Kami pun menuju ke mobil dan kebetulan di tempat kami parkir mobil tersebut adalah toko yang menjual hasil laut yang sudah digoreng. Akhirnya kami membeli udang dan kepiting kecil yang digoreng kering untuk dimakan di jalan. Setelah menemukan pemandian umum, kami bergantian mandi karena banyak barang ditinggal dan tidak ada yang jaga. Lalu sehabis itu kami memulai perjalanan pulang ke Jatinangor. Karena kami belum makan, di jalan pulang kami mencari tempat makan dan berhenti makan di warung makan yang ada di pinggir jalan. Perjalanan pulang terasa lebih lama karena jalanan ramai dan hujan.











Thanksss for the experience, Pantai Pangandaran! Makasih juga sudah ikut aku sama Febri yaa Andre, Ika, Rejak dan Alfa. Kapan2 kalau ada kesempatan kita main-main lagi! Ciao.

Rabu, 10 Agustus 2016

2 Years of Our Journey

Hi! Ga kerasa udah bulan Agustus ya. 2016 udah lebih dari setengah jalan. Sudah banyak banget hal yang terjadi dan gak sempat ditulis di blog ini. Bakal coba diangsur satu-satu deh hehe.
Yang pengen aku ceritain sekarang ini adalah… hari jadi aku yang ke dua tahun sama Febriansyah! Udah lewat beberapa bulan sih karena tanggal jadiannya itu tanggal 14 april dan sekarang sudah awal Agustus. But, let me just tell you this story anyway.

Tanggal ‘resmi’ aku sama Febri jadian itu tanggal 14 April 2014. Itu berarti 2 tahun yang lalu. Dia ‘nembak’ aku hari senin di mana hari itu adalah hari pertama dia UN (iya, dia junior aku…). Paginya dia bilang kalau akan ada yang nganterin sesuatu dari dia ke kosan aku. Aku mikirnya, temen dia atau siapapun yg dia kenal di Jatinangor yang bakal nganterinnya. Ternyata dugaan aku salah. Senin sore, ibu yang jaga kosan tiba-tiba ngetok kamar dan bilang: “neng, ini ada paket.” Setelah aku liat pengirimnya, ternyata dari Febri. Paketnya dalam bentuk amplop coklat gitu. Karena penasaran, aku sms Febri nanya ini paket apa dan boleh gak aku buka. Dia bilang bukanya malam aja waktu dia nelfon jadi sekalian buka paketnya. Yaudah, ditunggu sampe malam…

Malamnya, febri nelfon. Awalnya Cuma ngobrol kayak biasa, terus tiba-tiba dia bilang “eh coba paketnya dibuka deh”. Langsung saja paket aku buka dan ternyata isinya adalah foto, CD Tulus, origami bangau, origami hati dan surat. Langsung aja aku tanya segala hal perihal paket itu yg kira2 percakapannya begini:
“Feb? ini kenapa ada foto yg ada tulisannya gini?”
“emang tulisannya apa?”
“RC I Love U. Will U Be Mine?, Feb.”
“ya itu. Rizka mau ga jadi punya aku?”
“Hah gimana…………?”
“mau?”
*terdiam beberapa menit.*
“mau, feb.”




isi paket yang dikirim Febri


Jadi ya kira-kira seperti inilah proses ‘jadian’ kita. Sesudah proses jadian itu sebenernya gak banyak yang berubah. Karena yang berbeda hanya status kita berdua yg awalnya ‘temen’ terus jadi ‘pacar’. Kita udah deket banget dari sekitar 3 bulan sebelumnya. Jadi antara jadi temen 3 bulan itu dan jadi pacar, bedanya hanya di status.

Jadi saat itu kondisinya adalah Febri yang sedang ujian nasional dan belum tau akan kuliah di mana. Tapi, dia memilih Farmasi UNPAD saat mendaftar SNMPTN. Untuk jaga-jaga, dia bilang ke aku mau pergi ke Jogja untuk tes masuk UII. Dan Alhamdulillah dia lulus UII jurusan manajemen. Aku yang tidak berekspektasi terlalu tinggi dia akan lulus di Farmasi UNPAD (karena saingannya yang sangat banyak) pun berpikir bahwa aku dan Febri akan LDR lagi. Jatinangor – Jogja. Dan sebenarnya, aku kurang terlalu yakin dan suka dengan LDR. Tapi, kalau memang Febri akan melanjutkan kuliah di Jogja, berarti mau tidak mau kami berdua harus menjalani LDR.

Tibalah hari di saat hasil SNMPTN diumumkan. Aku pun ikut-ikutan deg-degan dari pagi sampai siang. Karena aku tidak tau nomor pendaftaran Febri, aku pun hanya bisa menunggu kabar dari Febri. Dan Alhamdulillah dia LULUS SNMPTN di Farmasi UNPAD. Beberapa minggu setelah itu, dia datang ke Jatinangor berdua dengan mamanya. Selama di Jatinangor, dia tinggal di (calon) kosan yang sudah dia pesan sebelumnya melalui aku. Hari itu kebetulan ibu dan tasya sedang main ke Jatinangor. Setelah menginap semalam, hari itu pun ibu dan tasya pulang lagi ke Jambi. Dan setelah mengantar ibu dan tasya ke travel, aku pun menuju ke kosan Febri. Jadi, hari itu adalah hari pertama kami bertemu setelah resmi berpacaran selama sekitar 2 bulan. Begitu sampai di kosan dia, aku menelfon dia untuk segera turun dan keluar karena aku gak tau dia menempati kamar yang mana. Begitu dia keluar dan melihatku, dia nyamperin dan keliatan bgt muka senengnya begitu ngeliat aku (atau aku hanya kepedean ya?:)))
“ke sini sendirian bae?”
“iyaaa feb.”
“yaudah yuk masuk kenalan sama mama.”

Dan sore itu juga merupakan pertemuan pertama aku dengan mamanya febri. Begitu sore, kami memutuskan untuk keluar dan sekalian mamanya febri ingin liat kampus. Tidak lama, mamanya febri ngajak makan dan nanya aku tempat makan yang enak di mana. Karena saat itu kami sedang berada di daerah yang jarang aku lalui, akhirnya randomly kami memilih untuk makan di Ayam Goreng Suharti.








Besoknya, adalah hari daftar ulang untuk mahasiswa baru. Febri dan mamanya pun pergi ke Bale Santika untuk daftar ulang. Sedangkan aku saat itu sedang ujian di kampus. Siangnya, aku dan febri janjian untuk pergi ke….Jatos. karena kosan dia dekat dengan FIB, dia pun nyamperin ke FIB dan dari FIB kami pergi berdua ke Jatos. Di Jatos, kami makan di KFC dan setelah itu nonton Maleficent di 21. Our first movie-dates! We were so happy!

Dan selama dua tahun ini, sudah banyakkkk bgt momen yg kami lalui bareng. Mulai dari seneng, sedih sampe marah2an. Dulu, hampir tiap hari ketemu untuk sekedar makan bareng, nonton, jalan ke Bandung, atau sekedar ngehabisin waktu gak jelas.

Sudah banyak juga masalah yang kita hadapin. Mulai dari yg sepele, sampai yang sudah hampir buat kita putus karena ego yang terlalu tinggi.

Febri adalah orang yang…jauh lebih muda dari pada aku. He is one year and six months younger than me. Tapi, bukan berarti dia kekanak-kanakan. Dalam menghadapi masalah, dia jauh lebih dewasa daripada aku yang gampang menyerah. Dia nyebelin (banget), gak mudah kepancing emosi, dia humoris, wangi, enak diajak ngobrol, hobi makan, hobi jalan-jalan, tenang dan banyak lagi sifat dia yg aku suka. Tapi bukan berarti selama 2 tahun ini ga ada sifat dia yg aku ga suka. Ya pasti ada.

Nah, sekarang mau nyoba ceritain waktu hari jadi kami ke yang 2 tahun. hari itu adalah hari kamis. Karena malamnya kami chat sampai malam, begitu jam 12, aku langsung mengucapkan ‘selamat 2 tahun’ ke dia. Paginya, aku yang hari itu gak ada jadwal kuliah, bersantai di kamar kosan sebelum jam 9 pergi ke kampus untuk datang ke seminar proposal temanku. Tiba-tiba randomnya febri bilang:
“buka gih jendela sama pintu kamarnya biar udara luar masuk.”
Aku yang lagi mager pun cuma bilang kalau pintunya udah dibuka (padahal belum hehe maafin feb)
“udah? Ah pasti belum. Buka gih cepet!!”
Karena dia tau aku belum buka pintu, akhirnya aku segera buka pintu dan kaget sekaget-kagetnya karena begitu buka pintu ada satu bucket bunga mawar di depan pintu. Perasaan waktu itu kaget, seneng, terharu nyampur jadi satu. Akhirnya aku pun langsung menelfon febri untuk nanya segala hal perihal bucket bunga mawar ini.
“Feb. ini ada mawar di depan kamar. Dari kau?”
“eh iya gitu? Ndak ah sembarangan ih.”
“feb serius ah dari siapa lagi coba kalo bukan dari kau.”
“Hehehe cieee dapat mawar. Selamat 2 tahun ya”
“jadi beneran dari kau? Pantes tadi nyuruh buka pintu. Makasih febbbb iya selamat 2 tahun jugaaaa.”
“Mandi gih. Kita sarapan yuk. Sekalian aku juga mau ke kampus. Mau bareng?”
setelah sarapan dan dia mengantarkan ku ke FIB, aku pun menuju Ged. Aula D untuk melihat seminar yang sedang berlangsung. Tidak lama. Hanya sekitar 1 jam aku berada di sana. Setelah temanku maju dan selesai presentasi, aku pun pamit kepada mereka karena Febri bilang dia akan menjemputku untuk pergi ke Bandung jam 1.





Sesampainya di Bandung, kami makan siang di Baso Semar dan menentukan tujuan kami selanjutnya.
“mau kemana kita habis dari sini, feb?”
“kemana yah? Bebas lah. Lembang aja yuk? Farmhouse?”
“yaudah, ayo.”

Kami menuju ke Farmhouse tetapi karena waktu yang sudah hampir jam 2 dan Farmhouse yang terlihat sangat ramai, kami membatalkan rencana kami ke farmhouse.
“yah, rame feb. kemana yah jadinya?”
“lanjut aja nanjak yuk?”
“cikole? Ngapain?”
“ya ga ada.. foto-foto aja. Kan di sana banyak pohon pinus. Pasti bagus deh kalo jd tempat foto-foto”.
Kami pun menuju Cikole dan mendapat spot yang bagus untuk foto. Tidak berapa lama, gerimis perlahan turun. Kami segera naik ke motor dan turun agar tidak kehujanan di jalan. Tiba-tiba di perjalanan febri ngomong..
“Riz, merhatiin ga jumlah dan warna dan bunga yang aku kasih tadi pagi?”
“merhatiin. Emang kenapa feb?”
“apa aja coba?”
“8 merah, 4 pink dan 2 putih.”
“apa coba artinya?”
“lah emang ada arti dibalik warna dan jumlahnya?”
“ada lah. Ya kali aku ngasih sesuatu tp ga ada ‘filosofis’-nya.
“apa emang?”
“coba pikir deh.”
Setelah aku berpikir keras dan akhirnya menyerah, febri pun menjelaskan maksud dari jumlah dan warna bunga mawar yang diberikannya tadi pagi.”
Its so sweet of you, febriansyah!!! Aku ga kepikiran sama sekali kalo artinya itu. Makasih banyak yah :”)






Harapan dan keinginan aku untuk 2 tahun hubungan kita ini adalah semoga 14 april selanjutnya kita masih bareng dan finally gapai impian kita masing2 yah bareng2 :”)

Gak ada lagi sedih, marah dan kecewa. Semoga yang ada selanjutnya hanya tawa dan kebahagiaan.

Selamat 2 tahun bersamaku, Febriansyah. You know that I lv y s mch! :) 


we are so happy to have each other!

Sabtu, 02 April 2016

Tentang Jodoh, Menurut Saya.


Semua orang mengatakan, jodoh adalah rahasia Tuhan yang telah Dia tuliskan di Lauhul Mahfudz bahkan sebelum seorang anak manusia dilahirkan. Tentang si A yang telah ditakdirkan berjodoh dengan B dan juga sebaliknya. Banyak memang suami istri yang tetap bersama hingga ajal menjemput mereka. Aku percaya mereka yang menghabiskan waktu bersama sampai dipisahkan oleh maut adalah mereka yang saling berjodoh dan telah menemukan masing-masing. Tetapi, bagaimana tentang orang yang dijemput ajal bahkan sebelum mereka menikah? Bagaimana dengan orang yang memutuskan untuk tidak menikah sampai akhir hayat mereka? Dan bagaimana dengan orang yang memilih untuk bersama dengan sesama jenis sebagai jalan hidupnya?

Apakah sebenarnya Tuhan telah menghadirkan jodoh mereka disaat mereka akhirnya memutuskan untuk tidak menikah atau memiliki hubungan dengan sesama jenis? Sehingga Tuhan-pun memilihkan orang lain sebagai jodoh dari mereka yang (calon) pasangannya lebih memilih jalan hidupnya sendiri? Entahlah.

Di saat menghadiri pesta pernikahan atau sekedar melihat foto pernikahan di media sosial, aku masih suka bertanya-tanya. Apakah mereka telah memilih orang yang tepat satu sama lain dan akan berjodoh sampai akhir hidup mereka. Bahkan aku masih suka bertanya-tanya dalam hati. Apakah aku dan seseorang yang sekarang aku anggap dan inginkan sebagai jodohku kelak akan benar-benar menikah dan berjodoh? Aku, kita semua tentu berharap begitu. Orang yang disayangi dan dicintai dapat menjadi jodoh kita sampai akhir kelak.


Aamiin. 

Kamis, 31 Maret 2016

1 April dan Bukan Tentang April Fools Day.

Aku, merupakan tipe orang yang apabila orang lain berbuat salah, mudah untuk segera memaafkannya. Tapi, akan menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk lupa pada penyebab kata maaf tersebut terlontar. Dan tentang dibuat kecewa. Aku yakin, bukan Cuma aku saja yang bila dibuat kecewa satu kali, akan sangat sulit untuk kembali memercayai orang tersebut. tapi kali ini berbeda.

Entah sudah berapa kali aku dibuat kecewa olehnya 2 tahun terakhir ini. Semua berawal dari 1 tahun yang lalu. I found out something that makes me angry. Bahkan waktu itu sedang berada di tempat makan yang ramai. Tidak ada yang bisa aku lakukan kecuali menatapnya dengan tatapan marah. Aku sangat ingin pergi saja dan meninggalkannya sendiri di tempat makan itu. Tapi apa daya, keinginanku kalah dengan cengkramannya di pergelangan tanganku. Terpaksa aku kembali duduk dan mendengarkan penjelasannya. Untuk pertama kalinya aku dibuat kecewa olehnya. But everyone got the second chance, right. Aku beri dia kesempatan kedua. Dengan kepercayaan penuh dan harapan dia tidak akan mengulangi kesalahannya lagi.

2014 beranjak pergi dan 2015 datang perlahan. Hari itu, akhir februari, adalah hari ulang tahunnya. Dengan mengajak beberapa teman, aku datangi tempatnya. To make you happy is all I wanna do. Dengan kue yang tak seberapa dan berhias lilin, dia dan aku meniupkan harapan dan keinginan di tahun yang baru. Tapi, selang beberapa jam setelah itu, bahkan gerimis yang turun dari awal aku datang ke tempatnya belum berhenti.. hati dan kepercayaanku terhadapnya kembali hancur. Entah apa yang menyebabkan dia mengulangi kesalahan yang sama. Padahal, aku sudah percaya dan berpikir kesalahan yang sama tidak akan terulang lagi. Yang aku inginkan saat itu hanya pergi dari tempatnya dan tidak ingin lagi bertemu dengan orang yang mudah saja merusak kepercayaan seenaknya. Tapi, lagi-lagi niatku untuk pergi kalah dengan cengkraman tangannya di pergelangan tanganku. Orang yang sama dengan kekecewaanku yang pertama. Dengan bertetes-tetes air mata dia berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Sulit bagiku untuk memaafkannya saat itu. Tapi, dia jahat. Linangan air mata itu membuatku luluh saat itu. Aku memaafkannya lagi walau setelah itu tangisku kembali pecah di pelukan teman perempuanku yang ada di situ karena dia ikut untuk memberikan kejutan untuknya.

Bulan berganti nama. Aku sudah mulai belajar ikhlas dan melupakan semua yang telah terjadi. Hingga suatu sore, chat seorang teman masuk dan memberi tahuku apa yang dia lihat di tempat makan yang dia datangi sore itu. Kembali hatiku hancur sore itu. Satu hal yang sangat aku sesali sampai sekarang, adalah mengapa waktu itu aku tak segera bersiap dan pergi ke tempat makan itu dan melihat semuanya langsung dengan mataku. Tetes air mata kami berdua turut tumpah sore menjelang malam itu saat bertemu dan aku jelaskan semuanya. Air mataku karena tak terima pengkhianatan yang kesekian kali ini dan air matanya yang tumpah karena dia bersumpah bahwa tak hanya ada mereka berdua sore itu. Tapi juga 2 orang teman lainnya yang bahkan sampai sekarang aku tak tahu kebenarannya. Entahlah. Aku kembali mencoba ikhlas dan percaya dengan semua yang dia katakan untuk mempertahankan hubungan kami. Dia kembali meminta maaf padaku. Mudah memaafkan tapi sangat sulit untuk kembali percaya kepada orang yang telah mengecewakan berkali-kali.  Sangat sulit. Selama satu minggu, aku menjadi orang yang rapuh dan harus berusaha keras untuk kembali menguatkan hati. Tanpa aku sangka, kejadian ini sangat berbekas sampai hari ini. Aku sangat sensitif jika mendengarkan nama perempuan itu. Prasangka buruk selalu datang dan aku menjadi sangat cemburu terhadap apapun yang dia lakukan dengan teman perempuannya. Dan sebenarnya ini sama sekali bukan mauku.

dan entahlah, aku harap ini menjadi yang terakhir. Dia kembali berulah lagi. Bahkan dia melakukannya disaat kami berdua sedang berada di tempat yang jauh dari masing-masing. Dia mengatakan semua hal yang baru saja dilakukannya adalah diluar kendalinya. Bullshit you keep sayin’. Kembali aku terpuruk dan butuh waktu lagi untuk bangkit.

Aku juga bingung kenapa aku tetap saja mempercayai orang yang tak bosan-bosannya menghancurkan kepercayaanku. Am I stupid or just too madly in love with?
Dua hal yang turut aku takuti dari semua hal yang telah terjadi. Aku takut terbiasa dengan semua hal yang akhirnya hanya akan menghancurkan hati serta kepercayaanku dan juga takut bahwa sebenarnya tidak ada kata terakhir untuk semua kekhilafan yang dia lakukan. Tapi yasudahlah. Aku benar-benar berharap tidak ada lagi hal buruk yang akan terjadi. Jaga kepercayaanku (lagi) ya.


Selamat tanggal 1 April. Dan sesungguhnya seluruh bagian tulisan ini bukan bagian dari April fools. Bahwa tulisan ini murni agar kau tak lagi mengulangi kesalahan yang sama. 

Selasa, 29 Maret 2016

satu lagi

“ Kita kan mahasiswa jurusan sosial, makanya harus belajar bersosialisasi sama orang banyak dari sekarang. Kalau anak saintek, bisa dimaklumi kalau mereka gak ikut organisasi ataupun kegiatan di kampus. Mereka (mungkin) nanti di dunia kerja ngehadepinnya alat, tumbuhan, hewan. Sedangkan anak sosial, yang dihadapin itu orang banyak. Makanya harus bisa bersosialisasi.”

Dash! One shoots right in the chest.

by Lulu Amelia, Public Relations ’13.