Kamis, 31 Maret 2016

1 April dan Bukan Tentang April Fools Day.

Aku, merupakan tipe orang yang apabila orang lain berbuat salah, mudah untuk segera memaafkannya. Tapi, akan menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk lupa pada penyebab kata maaf tersebut terlontar. Dan tentang dibuat kecewa. Aku yakin, bukan Cuma aku saja yang bila dibuat kecewa satu kali, akan sangat sulit untuk kembali memercayai orang tersebut. tapi kali ini berbeda.

Entah sudah berapa kali aku dibuat kecewa olehnya 2 tahun terakhir ini. Semua berawal dari 1 tahun yang lalu. I found out something that makes me angry. Bahkan waktu itu sedang berada di tempat makan yang ramai. Tidak ada yang bisa aku lakukan kecuali menatapnya dengan tatapan marah. Aku sangat ingin pergi saja dan meninggalkannya sendiri di tempat makan itu. Tapi apa daya, keinginanku kalah dengan cengkramannya di pergelangan tanganku. Terpaksa aku kembali duduk dan mendengarkan penjelasannya. Untuk pertama kalinya aku dibuat kecewa olehnya. But everyone got the second chance, right. Aku beri dia kesempatan kedua. Dengan kepercayaan penuh dan harapan dia tidak akan mengulangi kesalahannya lagi.

2014 beranjak pergi dan 2015 datang perlahan. Hari itu, akhir februari, adalah hari ulang tahunnya. Dengan mengajak beberapa teman, aku datangi tempatnya. To make you happy is all I wanna do. Dengan kue yang tak seberapa dan berhias lilin, dia dan aku meniupkan harapan dan keinginan di tahun yang baru. Tapi, selang beberapa jam setelah itu, bahkan gerimis yang turun dari awal aku datang ke tempatnya belum berhenti.. hati dan kepercayaanku terhadapnya kembali hancur. Entah apa yang menyebabkan dia mengulangi kesalahan yang sama. Padahal, aku sudah percaya dan berpikir kesalahan yang sama tidak akan terulang lagi. Yang aku inginkan saat itu hanya pergi dari tempatnya dan tidak ingin lagi bertemu dengan orang yang mudah saja merusak kepercayaan seenaknya. Tapi, lagi-lagi niatku untuk pergi kalah dengan cengkraman tangannya di pergelangan tanganku. Orang yang sama dengan kekecewaanku yang pertama. Dengan bertetes-tetes air mata dia berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Sulit bagiku untuk memaafkannya saat itu. Tapi, dia jahat. Linangan air mata itu membuatku luluh saat itu. Aku memaafkannya lagi walau setelah itu tangisku kembali pecah di pelukan teman perempuanku yang ada di situ karena dia ikut untuk memberikan kejutan untuknya.

Bulan berganti nama. Aku sudah mulai belajar ikhlas dan melupakan semua yang telah terjadi. Hingga suatu sore, chat seorang teman masuk dan memberi tahuku apa yang dia lihat di tempat makan yang dia datangi sore itu. Kembali hatiku hancur sore itu. Satu hal yang sangat aku sesali sampai sekarang, adalah mengapa waktu itu aku tak segera bersiap dan pergi ke tempat makan itu dan melihat semuanya langsung dengan mataku. Tetes air mata kami berdua turut tumpah sore menjelang malam itu saat bertemu dan aku jelaskan semuanya. Air mataku karena tak terima pengkhianatan yang kesekian kali ini dan air matanya yang tumpah karena dia bersumpah bahwa tak hanya ada mereka berdua sore itu. Tapi juga 2 orang teman lainnya yang bahkan sampai sekarang aku tak tahu kebenarannya. Entahlah. Aku kembali mencoba ikhlas dan percaya dengan semua yang dia katakan untuk mempertahankan hubungan kami. Dia kembali meminta maaf padaku. Mudah memaafkan tapi sangat sulit untuk kembali percaya kepada orang yang telah mengecewakan berkali-kali.  Sangat sulit. Selama satu minggu, aku menjadi orang yang rapuh dan harus berusaha keras untuk kembali menguatkan hati. Tanpa aku sangka, kejadian ini sangat berbekas sampai hari ini. Aku sangat sensitif jika mendengarkan nama perempuan itu. Prasangka buruk selalu datang dan aku menjadi sangat cemburu terhadap apapun yang dia lakukan dengan teman perempuannya. Dan sebenarnya ini sama sekali bukan mauku.

dan entahlah, aku harap ini menjadi yang terakhir. Dia kembali berulah lagi. Bahkan dia melakukannya disaat kami berdua sedang berada di tempat yang jauh dari masing-masing. Dia mengatakan semua hal yang baru saja dilakukannya adalah diluar kendalinya. Bullshit you keep sayin’. Kembali aku terpuruk dan butuh waktu lagi untuk bangkit.

Aku juga bingung kenapa aku tetap saja mempercayai orang yang tak bosan-bosannya menghancurkan kepercayaanku. Am I stupid or just too madly in love with?
Dua hal yang turut aku takuti dari semua hal yang telah terjadi. Aku takut terbiasa dengan semua hal yang akhirnya hanya akan menghancurkan hati serta kepercayaanku dan juga takut bahwa sebenarnya tidak ada kata terakhir untuk semua kekhilafan yang dia lakukan. Tapi yasudahlah. Aku benar-benar berharap tidak ada lagi hal buruk yang akan terjadi. Jaga kepercayaanku (lagi) ya.


Selamat tanggal 1 April. Dan sesungguhnya seluruh bagian tulisan ini bukan bagian dari April fools. Bahwa tulisan ini murni agar kau tak lagi mengulangi kesalahan yang sama. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar