Langsung ke konten utama

Tentang Siapa Yang Harus Bayar

Kemarin, ada teman yang bertanya tentang bagaimana konsep bayar”an aku sama Febri kalau lagi makan atau jalan. Itu membuatku teringat, beberapa waktu yang lalu, ada juga seorang teman yang bertanya: “Rizka kalo lagi jalan sama Febri, yang bayar siapa?”. Terus terang, pertanyaannya membuat aku berpikir bagaimana aku dan Febri selama ini. Lalu aku jelaskanlah kepada dia kalau saat jalan (terutama ke Bandung), untuk makan maka aku dan Febri akan membayar jumlah makan kami masing-masing. Juga untuk biaya masuk ke suatu tempat yang mengharuskan untuk beli tiket. Bagaimana dengan uang bensin? Sebelum pergi ke Bandung, aku dan Febri mampir dulu ke SPBU dan kami patungan untuk membayar uang bensin karena motor dan bensin akan dipakai oleh kami berdua selama di perjalanan, kan? Tidak berbeda jauh dengan perjalanan ke Bandung, di Jatinangor pun aku dan Febri terbiasa untuk bayar masing-masing. Entah untuk makan, nonton di 21 dan jajan.

Lalu dia bercerita bahwa selama ini kalau dia dan pacarnya jalan-jalan, maka merupakan suatu kewajiban untuknya untuk membayar semua kegiatan dia dan pacarnya hari itu. Bensin, makan, nonton atau bahkan belanja pacarnya (mungkin). Dia lanjut bertanya “kok kamu mau sih Riz kalau jalan-jalan atau makan, sepenuhnya bayar sendiri?”. Jawabannya cuma satu: Febri adalah pacar aku. Bukan suami yang wajib bayar semua keinginan dan keperluan aku. Kami membiasakan untuk bayar masing-masing dari awal pacaran untuk kebaikan dan kelancaran hubungan kami (ea). Adalah untuk agar aku tidak kebiasaan kalau jalan minta dibayarin dia dan kalau ternyata dia lagi gak ada uang, malah ngambek. Dan juga agar dia tidak canggung atau ragu mengajak aku jalan kalau memang uangnya hanya cukup untuk bayar kebutuhan dia sendiri. Ya memang karena, kami tidak ada kewajiban untuk itu.

Tetapi dengan prinsip ini, tidak menutup kemungkinan kadang-kadang aku dan dia saling traktir kalau memang lagi punya uang lebih atau momen tertentu. Biasanya sih diawali kalimat “makan di sana yuk. Aku traktir lah kali ini.” Tetapi, tetap.. kami tidak membiasakan diri untuk bergantung atau malah memaksa untuk minta dibayarin.

Aku pernah punya pacar yang egonya lelakinya sangat tinggi dalam masalah bayar-bayaran ini. Selama pacaran,  biaya untuk nonton di bioskop dan makan berdua dia yang tanggung. Saat aku iseng mengajaknya ke toko buku pun, dia membayar buku yang ingin kubeli dan sudah siap untuk aku bayar sendiri. Prinsipnya adalah: lelaki harus bertanggung jawab dan membayar semua keperluan pacar. Pacar loh ya bukan istri. Saat itu perasaanku campur aduk. Siapa yang tidak senang ditraktir, kan. Tapi jujur saja, aku merasa tidak enak dengannya sampai sekarang. Aku bukan tanggungannya dan dia mengeluarkan banyak uang untukku. Bahkan saat kami sudah putus, egonya masih sangat tinggi untuk masalah itu. aku dan teman-teman janjian untuk bertemu dan menonton film. Saat tiket sudah dipesankan oleh temanku dan aku sudah mau membayar uang tiket seharga 50ribu, tiba-tiba dia menyodorkan 100ribu dan bilang “ini aku sekalian bayarin rizka.” What……….. tak lupa berterima kasih dan aku sangat merasa tidak enak waktu itu dengannya. Bahkan ketika kami sudah putus, dia merasa dia masih harus membayar untuk keperluanku.

Menurutku, laki-laki yang membayar untuk keperluan pacarnya saat pergi jalan-jalan bukanlah sesuatu yang salah. Tetapi perempuan pun harus tau diri dan mengerti jika suatu saat pacarnya tidak punya uang lebih untuk membayar semua keperluan untuk jalan-jalan berdua. Karena sesungguhnya laki-laki yang belum menjadi suami, tidak memiliki kewajiban untuk hal itu.

salam dari kami, anak kuliahan yang masih bergantung
pada uang bulanan kiriman dari orang tua!
Cheers!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

my high school buddies and their first destination!

mau coba ngedata dimana aja anak DIE melanjutkan studi mereka. acak soalnya aku gak hapal absen and correct me if im wrong :)

1. ABDUL HASIB WIBISONO = Perminyakan,  Universitas Pembangunan Nasional Veteran, Jogja
2. ADRA UTAMI SALFIERIATY = PPA BCA
3. AGA FIR IKBAR = Teknik Mesin, Universitas Sriwijaya
4. AMRINA ROSADA = AKPER GAPU, Jambi
5. ANNIDA RANI CHAIRUNNISAH = Teknologi Hasil Pertanian, Universitas Jambi
6. APRILISA ISWAHYUNI = Kedokteran Gigi, Universitas Baiturrahma
7. BUCHDIYAN = BINUS, tapi kemarin terakhir dengar bucek diterima di ITS. (gatau fakultas apa _--_)
8. CHESSY NABILA =  Teknologi Hasil Pertanian, Universitas Jambi
9. FADHLAN MAULANA = Psikologi, Universitas Jambi
10. FADHOL YUDHAGAMA = Teknik Sipil, Universitas Islam Indonesia, Jogja
11. ELENA PUTRI = Pendidikan Kimia, Universitas Jambi
12. DWI RIFANDI = Pertambangan, Universitas Sriwijaya
13. INDAH MEDIANTI = Desain Interior, ITENAS
14. M. AGUNG PRASETYO = Teknik Sipil, Universitas Sriwijaya
15. LISA TRI AYU…

Akhirnya Sampai di The Lodge Maribaya.

Haai! Jadi, kemarin (selasa, 6 desember 2016) Febri tiba-tiba ngeline nanyain aku beres kuliah jam berapa. Karena kemarin aku cuma 2 kelas dan selesai sekitar jam 11, dia tiba-tiba aja bilang “kelar kau kelas, jalan aja yuk. Bosen nih.” Hmm hehee Rizka sih ngikut2 aja kan ya, Feb. yaudah.. kelar kelas, ketemuan di ATM center, terus ke kosan aku bentar ngambil monopod kamera dia. Di jalan menuju kosan, Febri bilang “aku mau nunjukin sesuatu. Yang sangat berguna buat kau. Tapi nanti bae, habis ambil monopod.” Yaudah kan rasa penasarannya ditahan dulu. Begitu aku turun lagi sesudah ngambil monopod, di teras kosan dia bilang lagi “liat sana dulu, aku keluarin sesuatu yang sangat berguna untuk kau.” Begitu aku balik badan lagi, dan ternyata yang dia pegang adalah……. Tas untuk kamera dia. YA. Sangat berguna buat aku, Feb :) sebel kan ya ternyata dia diem-diem belanja  online tas kamera itu :/ WKWKWK
Sekitar jam 12, begitu selesai beres-beres isi TAS kamera BARU, kami pergi ke Bandung. Ya se…

Thanks, dude.

We haven't meet for years. but when I said I want to share my heart-breaking (at least for me) story, he quickly say "okay i'll pick you up tomorrow at 4 P.M. where are we going? But if tomorrow you or me can't make it, let's just have a video call."
Nothing special between us. Just friend, but I'm happy to share my story with him. At least, as a man, he didn't judge me for being too fool because that toxic relationship. 
Thanks, dude.