Langsung ke konten utama

An Open Letter for Febriansyah Putra #3

Dear Febriansyah Putra.

Terkait dengan open letter aku #1 yang aku tulis beberapa minggu yang lalu, jadi bagaimana hasil pemilu-nya, Feb?

Jadi, sebelum aku tulis surat untuk Febri, boleh lah ya cerita sedikit..

kemarin.. 7 December 2016, merupakan hari yang mendebarkan untuk Febri (aku juga sih). Yaitu penghitungan suara pemilihan BEM di fakultasnya. Sorenya, Febri ngeline “aku di kampus yah ini. Baru kelar kuliah, ini mau pengitungan suara.” DHEG. Penasaran kan hasilnya bagaimana.. terus, sekitar jam 7, Febri belum juga ngabarin. Beberapa menit kemudian, liat instagram story dan ada temennya yang update video yang ada Febri (dan calon ketua BEM yang lain) dan ada caption ‘Congratulation.’ HADUH. Febri belum ngabarin sama sekali dan aku sama sekali gak mau dapat kabar duluan dari orang lain jadi video itu langsung aku skip :”)
beberapa puluh menit kemudian, Febri ngeline satu kata doang tapi sukses buat aku deg-degan dan penasaran.. “Alhamdulillahhh.. :”)))” loh, Feb. Alhamdulillah buat apa? Dan line aku baru dibalas 15 menit kemudian. “Ilham (calon ketua BEM yang lain) yang dapat. Alhamdulillah. Legaaaaa” okaaaay Feb kini aku tau hasilnya :”) dan aku lagi malas banget ngetik chat panjang lebar jadi Cuma aku balas “aku telfon sekarang boleh, ya?” dan dibalas “aku masih di atas ini. Salam-salaman, foto sama beres-beres. Ketemu langsung aja mau gak?” yaudah… dia jemput dan kita ngobrol di Wake Up.
Waktu di Wake Up, Febri cerita semuanya kronologis hari itu gimana. Aku cuma mendengarkan dan dia meminta aku merespon semua cerita dan kejadian yang terjadi hari itu..

Jadi gini, Feb.. sebenarnya, bukan suatu persoalan yang besar kan tidak terpilih menjadi ketua BEM? Kembali ke tujuan awal kau yang dulu-dulu pernah kau ceritain ke aku. Kau mau memajukan Kemafar dalam berbagai bidang, kan? Dan kalau tujuan kau memang benar-benar itu, aku yakin kau bisa memberikan masukan dari yang kau tulis di visi misi kau untuk Ilham sebagai ketua BEM. Dan menurut aku juga, karena kau sama Ilham sama-sama koor angkatan 2014, kalian berdua bisa menyatukan beberapa ide berbeda untuk direalisasikan. Sama kayak yang sudah kalian lakuin ke angkatan 2014. Dan seperti yang aku bilang di awal, kau gak terpilih sebagai ketua BEM merupakan masalah yang (sangat) besar kalau tujuan utama kau bukan untuk memajukan Kemafar, tapi karena kau mencari ketenaran sebagai ketua BEM eheheee :ppp tapi aku tau kau gak kayak gitu ;)

Feb, aku tau. Sangat tau apa yang sudah kau lakukan dari awal kau daftar jadi ketua BEM sampai akhirnya penghitungan suara kemarin. Ngumpulin berkas pendaftaran saat sudah H-1, bikin visi-misi, membentuk tim sukses, ngumpul dengan tim sukses, ngeprint ini itu untuk kebutuhan kampanye, kampanye yang hampir tiap hari sampai debat terbuka. Semua kau lakuin dengan sebaik mungkin. Semua kau lakuin dengan senang juga, kan. I know you’ve done your best whatever the result is, Feb.

Aku, sebagai pacar kau dan sebagai orang yang tau perjalanan  dan perjuangan kau dari awal, jujur bae… bangga nian sama kau. Bangga karena ya.. karena kau sudah berani untuk memulai komitmen dan daftar jadi ketua BEM. Bangga juga karena aku melihat sendiri bagaimana kau memperjuangkan apa yang kau mau.

Dan sekali lagi, aku seneng waktu denger kemarin kau bilang “aku yakin aku gak terpilih jadi ketua BEM ini karena ada sesuatu yang lebih lebih lagi sedang menunggu aku.” Aku seneng karena kau dengan lapang dada menerima kekalahan dan tetap optimis untuk melihat ke depan. Feb, ada sekian ratus orang yang memilih kau. Mereka percaya loh untuk diketuai sama kau :)

Tetap lah jadi Febri yang penuh dengan energi positif seperti ini. Tetaplah menjadi Febri yang selalu penuh semangat untuk mendapatkan apa yang kau mau.


..dan yang terakhir, aku akan selalu ada dan siap untuk mendengarkan seluruh cerita dan keluh kesah kau, Feb. :)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

my high school buddies and their first destination!

mau coba ngedata dimana aja anak DIE melanjutkan studi mereka. acak soalnya aku gak hapal absen and correct me if im wrong :)

1. ABDUL HASIB WIBISONO = Perminyakan,  Universitas Pembangunan Nasional Veteran, Jogja
2. ADRA UTAMI SALFIERIATY = PPA BCA
3. AGA FIR IKBAR = Teknik Mesin, Universitas Sriwijaya
4. AMRINA ROSADA = AKPER GAPU, Jambi
5. ANNIDA RANI CHAIRUNNISAH = Teknologi Hasil Pertanian, Universitas Jambi
6. APRILISA ISWAHYUNI = Kedokteran Gigi, Universitas Baiturrahma
7. BUCHDIYAN = BINUS, tapi kemarin terakhir dengar bucek diterima di ITS. (gatau fakultas apa _--_)
8. CHESSY NABILA =  Teknologi Hasil Pertanian, Universitas Jambi
9. FADHLAN MAULANA = Psikologi, Universitas Jambi
10. FADHOL YUDHAGAMA = Teknik Sipil, Universitas Islam Indonesia, Jogja
11. ELENA PUTRI = Pendidikan Kimia, Universitas Jambi
12. DWI RIFANDI = Pertambangan, Universitas Sriwijaya
13. INDAH MEDIANTI = Desain Interior, ITENAS
14. M. AGUNG PRASETYO = Teknik Sipil, Universitas Sriwijaya
15. LISA TRI AYU…

Akhirnya Sampai di The Lodge Maribaya.

Haai! Jadi, kemarin (selasa, 6 desember 2016) Febri tiba-tiba ngeline nanyain aku beres kuliah jam berapa. Karena kemarin aku cuma 2 kelas dan selesai sekitar jam 11, dia tiba-tiba aja bilang “kelar kau kelas, jalan aja yuk. Bosen nih.” Hmm hehee Rizka sih ngikut2 aja kan ya, Feb. yaudah.. kelar kelas, ketemuan di ATM center, terus ke kosan aku bentar ngambil monopod kamera dia. Di jalan menuju kosan, Febri bilang “aku mau nunjukin sesuatu. Yang sangat berguna buat kau. Tapi nanti bae, habis ambil monopod.” Yaudah kan rasa penasarannya ditahan dulu. Begitu aku turun lagi sesudah ngambil monopod, di teras kosan dia bilang lagi “liat sana dulu, aku keluarin sesuatu yang sangat berguna untuk kau.” Begitu aku balik badan lagi, dan ternyata yang dia pegang adalah……. Tas untuk kamera dia. YA. Sangat berguna buat aku, Feb :) sebel kan ya ternyata dia diem-diem belanja  online tas kamera itu :/ WKWKWK
Sekitar jam 12, begitu selesai beres-beres isi TAS kamera BARU, kami pergi ke Bandung. Ya se…

Thanks, dude.

We haven't meet for years. but when I said I want to share my heart-breaking (at least for me) story, he quickly say "okay i'll pick you up tomorrow at 4 P.M. where are we going? But if tomorrow you or me can't make it, let's just have a video call."
Nothing special between us. Just friend, but I'm happy to share my story with him. At least, as a man, he didn't judge me for being too fool because that toxic relationship. 
Thanks, dude.